akhirnya dinyatakan positif... mulai deg-deg'an. Belajar makan sayur, meski geli gak karuhan tiap sayurnya udah nempel di lidah. Belajar minum susu, meski perut udah muter-muter. Ditambah lagi sindrome trisemester pertama, rasanya makin gak doyan makan. Berasa lapaaar berat, tapi begitu lihat nasi, rasanya pengen kabur. Perut kosong bentar, asam lambung naik, lidah pahit, dan perut bergejolak mau memuntahkan isinya... belum lagi bengkak akibat suntikan TT... hhhmmm....
Tapi excited, ketika membaca tumbuh kembangnya... amazed, how God taking care us, since we were unborn... Merasakan setiap pertumbuhannya, selalu membuat jantungku berdetak lebih kencang. Seolah aku bisa merasakan setiap denyut jantungnya yang baru belajar untuk berdetak (usianya udah 6 minggu, jadi udah mulai ada detak jantung). Belajar untuk mengajaknya berinteraksi, mengenalkannya pada dunia disekitarnya, bundanya, papanya, dan kegiatan sehari-hari orang tuanya. Tuhan memberikan anugerah-Nya yang luar biasa... mengijinkan aku merasakan keajaiban yang tiada tara ini. Kuatkan kami, untuk selalu amanah dalam menjaga titipan-Mu... Amin.
Selasa, 08 Desember 2009
Senin, 23 November 2009
When Everythings move forward

Hari ini sepertinya dunia berputar begitu cepatnya, hingga aku merasa tertinggal dibelakang. Sendiri, terkucilkan... Aku seperti tak lagi mampu mengejar ketertinggalan itu... Sahabat-sahabatku yang dulu bersama mereka aku berjalan, berlari dan meraih mimpi, kini sepertinya tak lagi ada... Mereka kian cepat berlari, hingga tanpa mereka sadari telah mendorongku jatuh, dan terluka... aku tidak sedang menyesali keadaan... aku hanya ingin berbincang dengan hatiku... apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku bisa berdiri dan mengobati luka... pernahkan kamu merasa sahabat-sahabatmu menusukmu? apa yang kamu rasakan ketika sahabat-sahabatmu mulai melupakanmu? Apa yang akan kamu lakukan jika sahabat-sahabatmu tak lagi memerlukanmu? fiuuhh... and still a lot of stupid questions around my head... yach... mungkin memang bukan mereka yang berubah, tapi aku lah yang tak lagi seperti dulu. Tak ada tembok memagariku, tak ada jurang memisahkanku, tapi hati lah yang kian menjadi lebih sensitive dan perasa. tidak... bukan mereka, bukan pula hati yang mesti dipersalahkan... ini hanyalah sebuah fase... ini hanyalah sebuah langkah dari keadaan... kita telah mengambil keputusan, dan ini adalah sebuah akibat dari keputusan itu... dan luka?? hanya sebagian kecil dari akibat... tidak, sahabat... tidak... rasa sakit itu memang ada... dan itu nyata terasa... tidak... tidak... tidak ada yang perlu dipersalahkan...
yang aku butuhkan saat ini hanya mengatur nafas, dan degup jantung... menghela nafas panjang... luka itu akan segera terobati... terkadang menyembunyikan rasa sakit dan munafik hanya selaksa benang tipis jaring laba-laba... aku tak ingin menjadi munafik... rasa sakit ini memang nyata terasa... tapi aku tak mau rasa sakit ini turut membuatmu kian terluka dan berprasangka buruk... tidak... jangan diperparah keadaan ini... cukup... biarkan aku mengatur langkah dan bernafas... biarkan aku diam sejenak... dan melangkah dalam diam ku.... melangkah... dalam diamku....
Selasa, 04 Agustus 2009
Sayap Mimpiku
Ternyata hingga hari ini aku masih menangis. Luka itu terkadang masih kurasakan. Sakitnya masih meradang. Perih itu belum juga hilang.Tapi aku tak ingin terjatuh... Aku tak ingin terpuruk... Aku tak ingin larut...
Kalau memang mimpi-mimpi yang telah lalu, ternyata hanya sebatas mimpi, kali ini aku ingin kembali tersenyum... Meski aku masih mencoba, tapi aku tak ingin menyerah... Aku tak ingin kalah... Karena luka itu tidak akan pernah membuat aku menjadi sosok yang special.. Karena sakit dan derita itu tak akan pernah membuat aku menjadi special... Luka, Sakit dan derita itu hanya akan membuat aku menjadi terluka, sakit dan menderita...
Aku tak ingin menyerah untuk bermimpi... Aku ingin kembali merangkai sayap-sayapku... Aku ingin kembali terbang, menggapai awan jingga, menari bersama kupu-kupu, dan bersinar, meski tak secerah mentari pagi...
Aku tahu, di depan sana masih akan banyak kerikil-kerikil yang lebih tajam menanti untuk kembali melukai sayap-sayapku... tapi sungguh, Tuhan... Aku tak ingin menyerah... Aku ingin berteriak, aku pasti bisa... aku bisa... dan aku akan kembali terbang... tinggi... dan menari....
Sabtu, 27 Juni 2009
Diantara Luka dan Harapan
Beberapa bulan ini sudah banyak luka yang tertoreh. Begitu banyak rasa sakit yang hinggap. Banyak sekali air mata yang menetes. Hingga entah berapa lama aku lupa cara tersenyum tulus. Bahkan bermimpi merupakan sesuatu yang mahal bagiku. Bila diurai satu per satu mungkin otak dan hatiku tak akan pernah bisa berbentuk lagi. Bersyukur aku tak sampai menghabiskan sisa hidup dan berakhir di Rumah sakit jiwa.
Sekarang... Saat ini, aku tak ingin berbicara tentang luka itu. Luka itu telah tergores. Sakit itu telah terlanjur aku rasakan. Saat ini aku ingin berbicara tentang harapan. Apabila mimpi masih menjadi sesuatu yang mahal bagiku, biarkan harapku terbang bebas bersama awan jingga. Harapku tentang hatiku, harapku tentangnya, harapku tentang mereka, harapku tentang mimpi itu sendiri.
Bidak-bidak harapan itu mulai kuatur... satu persatu, mulai kususun... harapan tentang memiliki mimpi yang indah... harapan untuk diperkenankannya meminjam mimpi-mimpi mereka...
Aku ingin merenovasi ulang rumah jiwaku yang telah berantakan. Aku ingin membangun perpustakaan kehidupanku. Melengkapi bangunan itu dengan bunga warna-warni, pelangi dan awan jingga sebagai latarnya. Aroma wangi bunga dan segarnya rumput yang akan mengundang banyak kupu-kupu. Kupu-kupu persahabatan yang telah membantu aku merenda hari-hari, dan menemaniku melewati kerikil dan lumpur. Gemiricik air dari sungai kehidupan yang menenangkan dan menyejukkan jiwa.
Hingga suatu hari nanti, aku bisa membantu mereka melewati masa-masa sulit. Membantu mereka berdiri dan membangun rumah jiwa mereka. Berbagi buku di perpustakaanku. Mengajar mereka bermain dalam kecipak air. Mengajari mereka berenang, agar tak terhanyut dalam derasnya arus...
Aku ingin terbang bersama harapku... dalam awan jingga itu...
Sekarang... Saat ini, aku tak ingin berbicara tentang luka itu. Luka itu telah tergores. Sakit itu telah terlanjur aku rasakan. Saat ini aku ingin berbicara tentang harapan. Apabila mimpi masih menjadi sesuatu yang mahal bagiku, biarkan harapku terbang bebas bersama awan jingga. Harapku tentang hatiku, harapku tentangnya, harapku tentang mereka, harapku tentang mimpi itu sendiri.
Bidak-bidak harapan itu mulai kuatur... satu persatu, mulai kususun... harapan tentang memiliki mimpi yang indah... harapan untuk diperkenankannya meminjam mimpi-mimpi mereka...
Aku ingin merenovasi ulang rumah jiwaku yang telah berantakan. Aku ingin membangun perpustakaan kehidupanku. Melengkapi bangunan itu dengan bunga warna-warni, pelangi dan awan jingga sebagai latarnya. Aroma wangi bunga dan segarnya rumput yang akan mengundang banyak kupu-kupu. Kupu-kupu persahabatan yang telah membantu aku merenda hari-hari, dan menemaniku melewati kerikil dan lumpur. Gemiricik air dari sungai kehidupan yang menenangkan dan menyejukkan jiwa.
Hingga suatu hari nanti, aku bisa membantu mereka melewati masa-masa sulit. Membantu mereka berdiri dan membangun rumah jiwa mereka. Berbagi buku di perpustakaanku. Mengajar mereka bermain dalam kecipak air. Mengajari mereka berenang, agar tak terhanyut dalam derasnya arus...
Aku ingin terbang bersama harapku... dalam awan jingga itu...
Jumat, 12 Juni 2009
Silent
Kenyataan bahwa kadang aku harus menutup kedua mata dan telingaku dari segala hal di masa lalu. Mendengar dan melihat semua itu, seperti kembali menapaki jalan berkerikil yang tajam. Seperti menelan pil pahit dengan menutup hidung. Manusia memang sering sibuk dengan dirinya sendiri.. sibuk dengan hatinya, kebahagiaannya... Aku mencoba melangkah, mengabaikan hatiku. Karena ia telah terlalu hancur, hingga nafas pun tersengal. Terlalu banyak pil pahit yang harus ku telan, hingga membuatku kehabisan nafas, menutup hidung. Air mata kembali bersembunyi, saat ini aku ingin melihat orang lain bahagia. Saat ini aku ingin segera menyudahi perasaan sakit, bukan hanya sakitku, tapi sakit mereka. Kalau memang aku harus menghentikan detak jantung kebahagiaanku untuk itu, sekuat hati aku ingin melakukannya... bodoh mungkin... tapi aku sudah terlalu penat untuk menghiraukan kebodohan itu... Batu itu tajam dan terlalu banyak... aku hanya bisa melangkah dalam kepasrahan Illahi. Aku ingin merengkuh kebahagiaan itu melalui kebahagiaan dan senyum mereka. Mungkin bukan hanya untuk mereka, juga untuk diriku sendiri.. untuk aku... untuk diriku...
Selasa, 12 Mei 2009
Hujan Hari Ini
Hujan hari ini membuat cuaca pagi menjadi dingin. Segar. Jadi ingat jaman dulu, jalan-jalan di alam bebas dengan kaki telanjang, melihat daun-daun yang hijau, basah. Merasakan dingin yang menusuk tulang. Baju yang basah kuyup dengan rambut yang lepek. Kaki yang jadi kaku karena dingin, melangkah menapaki kerikil-kerikil dan tanah becek. Menikmati aroma tanah dan pohon yang digerus derasnya air hujan. Suasana yang dingin, aroma basah dan wangi tanah yang menyegarkan... hhhmmm.... Puas jalan-jalan, trus mampir di warung pinggir jalan, menikmati segelas kopi atau teh hangat. Dengan gigi yang menggigil kedinginan, tangan dan bibir yang keriput, memegang segelas kopi/teh hangat dan pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengannya. Sambil duduk meringkuk dengan baju yang masih basah kuyup. kangeeeennn....
Senin, 04 Mei 2009
Family Portrait - Pink
Mama please stop cryin'
I can't stand the sound
Your pain is painful
And it's tearin' me down
I hear glasses breakin'
As I sit up in my bed
I told Dad you didn't mean
Those nasty things you said
You fight about money
'Bout me and my brother
And this I come home to
This is my shelter
It ain't easy, growin' up in World War III
Never knowin' what love could be
You'll see, I don't want love to destroy me
Like it has done my family
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Mommy, I'll do anything
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Daddy, please don't leave
Daddy please stop yelling
I can't stand the sound
Make Mama stop cryin'
'Cause I need you around
My mama, she loves you
No matter what she says is true
I know that she hurts you
But remember I love you too
I ran away today
Ran from the noise, ran away
Don't wanna go back to that place
But don't have no choice, no way
It ain't easy growin' up in World War III
Never knowin' what love could be
That I've seen, I don't want love to destroy me
Like it did my family
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Mommy, I'll do anything
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Daddy, please don't leave
In our family portrait
We look pretty happy
Let's play pretend
Let's act like it comes naturally
I don't wanna have to split the holidays
I don't want two addresses
I don't want a stepbrother anyways
And I don't want my Mommy
Have to change her last name!
In our family portrait
We look pretty happy
We look pretty normal
Let's go back to that
In our family portrait
We look pretty happy
Let's play pretend
Act like it goes naturally
Daddy please don't leave
Oh let's go back oh lets go back to that
Daddy don't leave
Daddy turn around please
Remember that the night you left
You took my shining star
Daddy don't leave
Don't leave us here alone
Mama'll be nicer
I'll be so much better
I'll tell my brother
I won't spill the milk at dinner
I'll be so much better
I'll do everything right
I'll be your little girl forever
I'll go to sleep at night
I can't stand the sound
Your pain is painful
And it's tearin' me down
I hear glasses breakin'
As I sit up in my bed
I told Dad you didn't mean
Those nasty things you said
You fight about money
'Bout me and my brother
And this I come home to
This is my shelter
It ain't easy, growin' up in World War III
Never knowin' what love could be
You'll see, I don't want love to destroy me
Like it has done my family
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Mommy, I'll do anything
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Daddy, please don't leave
Daddy please stop yelling
I can't stand the sound
Make Mama stop cryin'
'Cause I need you around
My mama, she loves you
No matter what she says is true
I know that she hurts you
But remember I love you too
I ran away today
Ran from the noise, ran away
Don't wanna go back to that place
But don't have no choice, no way
It ain't easy growin' up in World War III
Never knowin' what love could be
That I've seen, I don't want love to destroy me
Like it did my family
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Mommy, I'll do anything
Can we work it out?
Can we be a family?
I promise I'll be better
Daddy, please don't leave
In our family portrait
We look pretty happy
Let's play pretend
Let's act like it comes naturally
I don't wanna have to split the holidays
I don't want two addresses
I don't want a stepbrother anyways
And I don't want my Mommy
Have to change her last name!
In our family portrait
We look pretty happy
We look pretty normal
Let's go back to that
In our family portrait
We look pretty happy
Let's play pretend
Act like it goes naturally
Daddy please don't leave
Oh let's go back oh lets go back to that
Daddy don't leave
Daddy turn around please
Remember that the night you left
You took my shining star
Daddy don't leave
Don't leave us here alone
Mama'll be nicer
I'll be so much better
I'll tell my brother
I won't spill the milk at dinner
I'll be so much better
I'll do everything right
I'll be your little girl forever
I'll go to sleep at night
Hati Biru - 1
Biarkan aku sendiri, ibu
Yang ini bukan apa-apa
Karena aku tahu, aku masih akan
menghadapi gelombang dan badai yang
seribu kali lebih besar. Dan mungkin...
sejuta kali juga lebih sunyi!
(Taken from "Aku" - Sjuman Djaya)
Yang ini bukan apa-apa
Karena aku tahu, aku masih akan
menghadapi gelombang dan badai yang
seribu kali lebih besar. Dan mungkin...
sejuta kali juga lebih sunyi!
(Taken from "Aku" - Sjuman Djaya)
Selasa, 28 April 2009
Dedicated to my Bro.
Aku seperti menanti ajal. Menghitung detik demi detik akan hancurnya sebuah jaman. Melihat di depan mata malaikat pencabut nyawa siap bertugas. Aku bertanya, apa yang harus aku lakukan..?? Apakah usahaku kurang maksimal untuk sebuah perjuangan? Aku terkesiap dalam dilema. Antara berontak dan pasrah. Tanpa tahu apa yang harus dilakukan... Aku tak ingin menyalahkan. Aku tak ingin memerintah. Tapi perjuangan seperti terbentur tembok besar. Menyelesaikan misi yang tak mungkin terselesaikan. Menghadapi masalah yang pasti akan ada di depan mata. Melihat Singa lapar siap mendekat, tanpa pisau tanpa senjata. Tanpa teman, mereka lari, asik sendiri... Dan aku hanya bisa menanti... mencari batu untuk senjata... dan berdo'a. *sigh*
Kamis, 23 April 2009
Dalam Diam dan Gelap
Aku berjalan dalam diam
Meresapi kesunyian
Menghanyut dalam senyap
Mengupas lara
Aku bergeliat dalam gelap
mencecap duka
meraba asa
tersenyum pada tawa
Aku berawal dari diam
Mendengar tiap untai kata
Meresapi suara
Aku bermula dari gelap
mengerjap pada cahaya
menguntai tiap titiknya
Aku ingin merasa
tiap duka... tiap tawa
tiap lara... tiap asa
dan aku akan berjalan dalam diam
Meresapi kesunyian
Menghanyut dalam senyap
Mengupas lara
Aku bergeliat dalam gelap
mencecap duka
meraba asa
tersenyum pada tawa
Aku berawal dari diam
Mendengar tiap untai kata
Meresapi suara
Aku bermula dari gelap
mengerjap pada cahaya
menguntai tiap titiknya
Aku ingin merasa
tiap duka... tiap tawa
tiap lara... tiap asa
dan aku akan berjalan dalam diam
Senin, 13 April 2009
Dark Blue
My heart badly broken
by the untruth
And the pain is killing me
In the darkest night
No matter how...
The truth always find its own way
Everytime the truth revealed
my hearth is tortured
My heart badly broken
by the untruth
by the untruth
And the pain is killing me
In the darkest night
No matter how...
The truth always find its own way
Everytime the truth revealed
my hearth is tortured
My heart badly broken
by the untruth
Selasa, 31 Maret 2009
Benang Warna-Warniku
Dulu sekali saya pernah berkata pada seorang teman. Bahwa jika hidup ini sebuah perjalanan, maka saat ini saya harus menyebrang. Pada saat itu memang hati saya sedang remuk, luruh, menjadi kepingan-kepingan yang saya hampir tak bisa mengenali lagi bentuknya. Dan ketika menyebrang, saya memilih menyebrang di zebra cross. Saya tengok kanan dan kiri, semua mobil dan motor sudah berhenti. Ada seorang polisi yang membantu saya menyebrang, dengan meniup peluitnya untuk menyetop laju kendaraan. Saya merasa keadaan sudah aman untuk saya menyebrang. Dan akhirnya menyebranglah saya... Tanpa saya sadari ada sepeda motor yang nyelonong, dan menabrak saya kemudian melarikan diri... Orang lain sudah teriak-teriak, pengendara itu tak peduli dan terus memacu laju sepeda motornya. Yang saya sadari saat itu, saya merasa sakit... sakit sekali... Mungkin ada tulang saya yang patah. Seperti hati saya yang remuk. Orang-orang itu pun membantu saya, membawa saya ke Rumah sakit. Dan rasa sakit itu, amat-sangat menyiksa saya... Sakiit sekalii... Saya sempat marah sama pengendara motor yang tidak bertanggung jawab itu. Saya sempat marah sama polisi itu yang tidak bisa menangkap sang pengendara motor. Namun akhirnya saya sadar, kemarahan saya tidak bisa membuat luka saya menjadi sembuh. Kemarahan saya tidak bisa menyatukan kembali tulang saya yang retak. Jadi untuk apa saya harus menuruti rasa amarah saya. Saya sudah merasakan sakit itu. Dan saya tidak mau menempatkan diri saya sebagai korban. Saya ingin membawa perasaan sakit saya ini sebagai kamus kehidupan saya. Bahwa saya pernah merasakan sakit yang seperti ini. Merasakan tulang yang retak. Sehingga suatu saat ketika ada teman atau orang yang patah tulang, saya bisa berempati pada mereka. Memberikan support terbaik saya untuk mereka. Saya ingin menjadikan kejadian yang saya alami, perasaan yang saya rasakan ini sebagai hal yang memperkaya khasanah kehidupan saya. Dan saya yakin, Tuhan itu maha memberi yang terbaik. Saya merasa saya sudah melakukan yang terbaik sebatas kemampuan saya sebagai manusia. Saya sudah menyebrang di zebra cross, saya sudah tengok kanan dan kiri, dan polisi pun sudah memberikan aba-abanya untuk menyebrang, tapi ternyata saya masih juga tertabrak motor. Untuk hal baik yang sudah saya lakukan, saya yakin pada akhirnya saya akan mendapatkan kebahagiaan. Entah itu dalam bentuk apa. Bisa saja dengan kehadiran teman-teman saya, menengok saya itu bisa menghibur saya, membuat saya tersenyum dan merasa bahwa saya tidak sendiri melewati masa sakit itu. Ketulusan mereka bisa membuat luka saya sembuh lebih cepat. Namun jikalau pada akhirnya saya masih tertabrak juga, mungkin saya masih teledor. Masih ada kekurangan dalam diri saya, sehingga diantara sekian orang yang menyebrang bersama saya, hanya saya yang tertabrak. Mungkin saya terlalu percaya pada keadaan yang saya anggap sudah aman, sehingga menurunkan tingkat kewaspadaan saya. Dan dari situ saya bisa belajar bahwa kita tidak bisa menjamin akan suatu keadaan. Hati-hati itu perlu. Apapun keadaannya. Dan saya tidak pernah menduga, justru di Rumah sakitlah saya belajar tentang banyak hal. Justru di Rumah sakitlah, yang orang bilang tempatnya orang yang sakit dan menderita, saya mendapatkan kebahagiaan saya. Dan di Rumah sakitlah saya bersekolah tentang kehidupan, sekolah yang sangat mahal harganya. Saya tidak perlu mencari pengendara itu dan menanyakan tanggung jawabnya. Saya tidak perlu memukul atau memaki pengendara itu untuk membalas rasa sakit saya. Karena saya tahu, dia tidak perlu timpukan sendal atau lemparan batu untuk merasa bersalah. Dia punya nurani. Dia punya mata, dia bisa melihat. Dan suatu saat dia juga akan terusik hatinya karena perasaan bersalah itu. Saya tidak perlu memikirkan dendam atau amarah saya. Juga tidak perlu memikirkan balasan apa yang tepat untuk dia. Saya tidak perlu menjadi risau untuk hal-hal yang tidak perlu saya risaukan. Saya hanya perlu sembuh, bangkit dan berjalan kembali. Menatap ke depan.
Dan entah apakah Tuhan benar-benar membaca hati saya, 3 hari kemarin banyak teman-teman lama yang menanyakan kabar saya. Teman-teman yang tidak saya duga-duga masih ingat sama saya. Sungguh saya merasa bersyukur sekali. Mereka ikut menyumbangkan benang warna-warninya untuk menjahit luka saya. Dan benang itu meskipun warnanya tidak beraturan tapi indah di mata saya. Saya jadi tahu rasanya dijahit dengan benang warna merah, biru, putih, hitam, kuning. Dan benang-benang itu menjadi jalinan yang indah di hati saya. Terima kasih Tuhan untuk setiap inci luka dan setiap kerikil di jalan saya. Terima kasih Tuhan untuk setiap pelajaran yang Engkau berikan dengan caraMu. Terima kasih untuk mengijinkan saya mencicipi begitu banyak rasa di kehidupan ini. Terima kasih untuk setiap kekuatan yang engkau tambahkan di hati dan pundak saya dalam setiap rasa dan luka itu. Terima kasih telah mengirimkan "malaikat-malaikat"-Mu dengan benang warna-warninya untuk saya. Terima kasih untuk setiap hela udara yang masih engkau ijinkan untuk saya hirup hingga detik ini. Terima kasih... Terima kasih... :)
Dan entah apakah Tuhan benar-benar membaca hati saya, 3 hari kemarin banyak teman-teman lama yang menanyakan kabar saya. Teman-teman yang tidak saya duga-duga masih ingat sama saya. Sungguh saya merasa bersyukur sekali. Mereka ikut menyumbangkan benang warna-warninya untuk menjahit luka saya. Dan benang itu meskipun warnanya tidak beraturan tapi indah di mata saya. Saya jadi tahu rasanya dijahit dengan benang warna merah, biru, putih, hitam, kuning. Dan benang-benang itu menjadi jalinan yang indah di hati saya. Terima kasih Tuhan untuk setiap inci luka dan setiap kerikil di jalan saya. Terima kasih Tuhan untuk setiap pelajaran yang Engkau berikan dengan caraMu. Terima kasih untuk mengijinkan saya mencicipi begitu banyak rasa di kehidupan ini. Terima kasih untuk setiap kekuatan yang engkau tambahkan di hati dan pundak saya dalam setiap rasa dan luka itu. Terima kasih telah mengirimkan "malaikat-malaikat"-Mu dengan benang warna-warninya untuk saya. Terima kasih untuk setiap hela udara yang masih engkau ijinkan untuk saya hirup hingga detik ini. Terima kasih... Terima kasih... :)
Selasa, 17 Maret 2009
Please be careful with my heart - Jose Mari Chan
If you love me like you tell me please be careful with my heart
you can take it just don't break it or my world will fall apart
you are my first romance and i'm willing to take a chance
that 'til life is through i'll still be loving you
I will be true to you just a promise from you will do
from the very start please be careful with my heart
I love you and you know I do there'll be no one else for me
promise i'll be always true for the world and all to see
Love has heard some lies softly spoken
and I have had my heart badly broken
i've been burned and i've been hurt before
So I know just how you feel trust my love is real for you
i'll be gentle with your heart i'll caress it like the morning dew
i'll be right beside you forever I won't let your world fall apart
from the very start i'll be careful with your heart
you are my first *and you are my last* romance
and i'm willing to take a chance *i've learned from the past*
that 'til life is through i'll still be loving you
I will be true to you *only to you*
just a promise from you will do
from the very start *from the very start*
from the very start *from the very start*
from the very start please be careful with *i'll be careful with* (*my your heart*)
you can take it just don't break it or my world will fall apart
you are my first romance and i'm willing to take a chance
that 'til life is through i'll still be loving you
I will be true to you just a promise from you will do
from the very start please be careful with my heart
I love you and you know I do there'll be no one else for me
promise i'll be always true for the world and all to see
Love has heard some lies softly spoken
and I have had my heart badly broken
i've been burned and i've been hurt before
So I know just how you feel trust my love is real for you
i'll be gentle with your heart i'll caress it like the morning dew
i'll be right beside you forever I won't let your world fall apart
from the very start i'll be careful with your heart
you are my first *and you are my last* romance
and i'm willing to take a chance *i've learned from the past*
that 'til life is through i'll still be loving you
I will be true to you *only to you*
just a promise from you will do
from the very start *from the very start*
from the very start *from the very start*
from the very start please be careful with *i'll be careful with* (*my your heart*)
Rabu, 11 Maret 2009
Tasteless 2
Air mata telah mengering
Senyum terasa hambar
Luka telah membatu
Aku tak lagi dapat merasa
rasa yang dulu pernah ada...
Senyum terasa hambar
Luka telah membatu
Aku tak lagi dapat merasa
rasa yang dulu pernah ada...
Selasa, 10 Maret 2009
Tasteless
Apakah kehidupan memang harus seperti mata uang..?? Hanya ada 2 sisi yang berlainan. Hitam dan putih.. Tidak adakah sisi abu-abu... Terkadang aku tidak tahu harus berdiri dimana... Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah... Aku tidak tahu apakah ini baik atau buruk... Terkadang aku hanya ingin berjalan. Tapi aku tahu, akan selalu ada kerikil dan rintangan yang akan membuat aku harus menoleh, ke kiri atau ke kanan... dan aku harus melangkah, maju atau mundur untuk menghindari rintangan... Karena aku harus tetap berjalan...
Hingga hari ini aku berdiri di satu titik, dimana aku tidak dapat lagi merasakan apapun. Sedih, marah, suka, gembira, gundah, atau apakah itu namanya...??? lidah ini seperti beku... tak mau merasa... hati ini hampa, tak tahu apa yang dirasa... Bahkan airmata atau setitik senyum pun tak mau keluar dari mata dan bibir... Kemana semuanya...??? Perasaan apa ini???
fiiuuhh... Apakah ini memang sebuh titik yang disiapkan untukku..?? sebuah waktu yang diberikan untukku menetralkan semuanya... Waktu dimana aku harus melakukan sesuatu yang selama ini seharusnya telah aku lakukan... Tapi terlalu kerdil bagiku untuk melakukan hal yang begitu berarti... apakah ini nantinya benar atau salah, baik atau buruk??? Aku tak dapat merasakannya... kosong....
Tapi aku yakin, akan ada tangan-tangan gaib yang akan merengkuhku dalam hangatnya Cahaya... Dan aku harus melakukan apa yang seharusnya aku lakukan...
Hingga hari ini aku berdiri di satu titik, dimana aku tidak dapat lagi merasakan apapun. Sedih, marah, suka, gembira, gundah, atau apakah itu namanya...??? lidah ini seperti beku... tak mau merasa... hati ini hampa, tak tahu apa yang dirasa... Bahkan airmata atau setitik senyum pun tak mau keluar dari mata dan bibir... Kemana semuanya...??? Perasaan apa ini???
fiiuuhh... Apakah ini memang sebuh titik yang disiapkan untukku..?? sebuah waktu yang diberikan untukku menetralkan semuanya... Waktu dimana aku harus melakukan sesuatu yang selama ini seharusnya telah aku lakukan... Tapi terlalu kerdil bagiku untuk melakukan hal yang begitu berarti... apakah ini nantinya benar atau salah, baik atau buruk??? Aku tak dapat merasakannya... kosong....
Tapi aku yakin, akan ada tangan-tangan gaib yang akan merengkuhku dalam hangatnya Cahaya... Dan aku harus melakukan apa yang seharusnya aku lakukan...
Kamis, 29 Januari 2009
Sahabat

Setelah lama gak pernah nulis lagi, hari ini dipaksa lagi untuk menulis. Pemaksaan untuk menulis ini berawal dari seorang teman nanyain apakah FS ku masih aktif ato gak... Akhirnya jari dan otak bergerak seirama untuk mencoba buka FS lagi, karena dah lama gak melihat perkembangan FS. Setelah dibuka, ada beberapa message dan comment yang masuk. Yang bikin tercengang, sewaktu buka comment dari seorang sahabat. Ternyata.... itu sahabat dari jaman aku SMP dulu.. Kita sempat satu kelas, waktu kelas 3, dan jadi teman sebangku... itu juga gara-gara kita berdua mempunyai tubuh paling mungil di kelas, alhasil dipaksa pindah duduk satu bangku di jajaran paling depan... hehe... Seorang sahabat yang suka keluyuran malam untuk latihan pencak silat. Dengan tangan yang jauh dari halus khas seorang perempuan... tangannya keras, kapalan... gara-gara kebanyakan latihan pencak silat... tapi itulah sosoknya, mungil, cerdas, spontan, dan menyenangkan... Setelah ketemu di FS, tercengang waktu lihat foto-fotonya. Jauh dari kesan tomboynya dulu... udah menimang seorang bayi... make up di wajah... anting yang feminin... baju yang warna-warni... kaca mata hitam membuat penampilan makin kelihatan up to date dan metropolis... hehe...
Sempat terlintas dalam fikiran, wah... alangkah banyak perubahannya setelah lebih dari 12 tahun tidak bersua... Apakah benar dia yang banyak berubah?? Ataukah memang aku yang sudah berubah?? Kata Henry David Thoreau, Walden (1970), "Things do not change, we change" Oleh karena itulah kita memandang suatu yang berbeda, menganggapnya sebagai perubahan... mungkin... tapi itulah dinamika...
Sahabat....
Banyak hal yang akhir-akhir ini aku temukan tentang sahabat-sahabatku... Yang akhirnya bermuara pada satu kata, indahnya kehidupan... indahnya persahabatan...
Dulu... aku selalu tidak pernah merasa percaya diri ditengah-tengah sahabat-sahabatku... Sejak mulai masuk TK, aku sudah mulai merasa minder bila harus mengeluarkan pendapat didepan orang lain... Malu bila harus maju ke depan untuk menyanyi. Bahkan ketika uang sakuku yang waktu itu cuma Rp.25 hilang pun, aku tidak berani bicara atau bertanya, dan hanya bisa duduk diam di bangku sambil melihat teman-temanku yang lain beli jajan. Masuk SD pun begitu. Meski sudah mulai bersosialisasi, selalu ada hal-hal yang membuat aku trauma. Meskipun tidak pernah menghalangiku untuk berprestasi, tapi aku tidak pernah punya sahabat... bahkan menjadi korban bullying sudah akrab denganku.. Tapi untungnya, aku orang yang keras kepala. Meski minder, aku juga tidak pernah mau mendengarkan omongan orang.. hehe... So, bullying tidak terlalu mempengaruhiku dalam berprestasi. Duduk di bangku SMP aku mulai punya sahabat yang selalu duduk 1 bangku, selalu belajar bersama. Kalau orang lain bilang, tidak ada orang yang setelaten aku, bisa berteman dengan anak tersebut. Menginjak kelas 3 SMP, kita dipisah kelas, karena ada sistem kelas prestasi. Pengelompokan kembali ke dalam kelas-kelas favorit. Anak-anak yang paling pintar, masuk ke 3A - 3B, begitu berturut-turut hingga 3H. Dan di 3B inilah aku duduk sebangku dengan Handri, teman yang pendekar silat itu... hehe...
Bahkan hingga duduk di bangku SMU, aku masih belum benar-benar mengetahui arti sahabat. Di SMU sahabat-sahabatku mulai banyak. Tapi tetap, mereka selalu mengenalku sebagai anak yang pendiam, tapi keras kepala. Aku tidak pernah peduli ketika teman-teman melarangku bergaul dengan seorang yang kata mereka Playboy... Bahkan aku juga tidak peduli ketika seorang temanku ada yang merasa sakit hati ketika aku dekat dengan cowok incerannya.. hehe.. maklum SMU... padahal, tidak ada kamus pacaran di otak ku pada saat itu... bahkan aku gak pernah ngeh kalau ada anak PDKT, kalo tidak teman-temanku yang heboh... ah... tapi romansa SMU selalu indah... masa-masa paling menyenangkan... Tapi yaaa... pada saat itu, sahabat bagiku hanya orang-orang yang dekat ketika mereka merasa nyaman... The end of the year, is the end of the friendship... habis massa SMU pasti juga sudah lupa gak tahu kemana.. sibuk dengan hidup masing-masing... dan kembali, aku tidak terlalu peduli...
Tapi, kembali.. aku dibuat tercengang ketika lebaran kemarin seorang teman SMU tiba-tiba sms dan bilang mau maen ke rumah... meskipun sempat lupa alamat rumahku, tapi yaaa... akhirnya nyampe juga... Dan dia masih inget dengan detil-detilnya ketika dia suka bercanda, saling olok dan biasanya hanya kutanggapi dengan senyum... kita memang 1 kelas. Tapi jarang berdiskusi ato bertegur sapa... Paling cuma ketika dia habis latihan maen band, dan aku habis latihan pramuka, kita gak sengaja ketemu trus dia suka becanda... anaknya memang periang... Dan yang bikin aku ketawa, ketika dia bilang, "dulu kamu orang yang paling dingin kalo aku godain, wid.." hahaha... sumpah... itu pengakuan terjujur yang aku terima... Dia memang suka becanda, dan biasanya aku menanggapi candaannya hanya dengan senyum... Dari ceritanya, aku mendengar banyak hal yang makin membuat aku tercengang tentang sahabat-sahabatku dulu... ada yang minggat dari rumah, ada yang terdampar jadi loper koran pdhl dulu dia anak orang yang kaya di daerahnya, ada yang jadi polisi pdhl dia dulu suka cabut waktu pelajaran... haha... begitu indah dan menyenangkan memiliki sahabat... Mengenangnya saja sudah membuatku tersenyum, dan merangkai kata sebanyak ini, apalagi kembali berada ditengah-tengah mereka... Pasti jauh lebih menyenangkan...
Aku tidak pernah menyangka... memiliki sahabat ternyata begituuuu indah...
Semenjak lepas SMU, hingga hari ini, rasa percaya diriku semakin bertambah.. aku tidak lagi merasa minder untuk berbicara ditengah-tengah sahabat-sahabatku.. Bahkan aku merasa bahagia ketika mereka mendengar apa yang aku bicarakan.. aku merasa berguna ketika mereka melakukan apa yang aku sarankan... merasa dihargai ketika mereka menanggapi pembicaraanku... dan aku... lengkaplah artiku sebagai makhluk sosial berkat mereka... tanpa mereka, mungkin aku tidak akan pernah tahu betapa berartinya berada diantara orang-orang yang tetap sayang meskipun tidak bertalian darah...
Terima kasih sahabat.... terima kasih untuk setiap tetes tinta yang engkau coretkan dalam lembar perjalananku... terima kasih untuk setiap tetes airmata yang engkau tumpahkan dalam mengiringi hariku... terima kasih untuk setiap derai tawa dalam ruang kehidupanku... terima kasih untuk setiap langkah yang telah kita lewati dalam merenda jiwa... terima kasih... terima kasih...
Sahabat....
Banyak hal yang akhir-akhir ini aku temukan tentang sahabat-sahabatku... Yang akhirnya bermuara pada satu kata, indahnya kehidupan... indahnya persahabatan...
Dulu... aku selalu tidak pernah merasa percaya diri ditengah-tengah sahabat-sahabatku... Sejak mulai masuk TK, aku sudah mulai merasa minder bila harus mengeluarkan pendapat didepan orang lain... Malu bila harus maju ke depan untuk menyanyi. Bahkan ketika uang sakuku yang waktu itu cuma Rp.25 hilang pun, aku tidak berani bicara atau bertanya, dan hanya bisa duduk diam di bangku sambil melihat teman-temanku yang lain beli jajan. Masuk SD pun begitu. Meski sudah mulai bersosialisasi, selalu ada hal-hal yang membuat aku trauma. Meskipun tidak pernah menghalangiku untuk berprestasi, tapi aku tidak pernah punya sahabat... bahkan menjadi korban bullying sudah akrab denganku.. Tapi untungnya, aku orang yang keras kepala. Meski minder, aku juga tidak pernah mau mendengarkan omongan orang.. hehe... So, bullying tidak terlalu mempengaruhiku dalam berprestasi. Duduk di bangku SMP aku mulai punya sahabat yang selalu duduk 1 bangku, selalu belajar bersama. Kalau orang lain bilang, tidak ada orang yang setelaten aku, bisa berteman dengan anak tersebut. Menginjak kelas 3 SMP, kita dipisah kelas, karena ada sistem kelas prestasi. Pengelompokan kembali ke dalam kelas-kelas favorit. Anak-anak yang paling pintar, masuk ke 3A - 3B, begitu berturut-turut hingga 3H. Dan di 3B inilah aku duduk sebangku dengan Handri, teman yang pendekar silat itu... hehe...
Bahkan hingga duduk di bangku SMU, aku masih belum benar-benar mengetahui arti sahabat. Di SMU sahabat-sahabatku mulai banyak. Tapi tetap, mereka selalu mengenalku sebagai anak yang pendiam, tapi keras kepala. Aku tidak pernah peduli ketika teman-teman melarangku bergaul dengan seorang yang kata mereka Playboy... Bahkan aku juga tidak peduli ketika seorang temanku ada yang merasa sakit hati ketika aku dekat dengan cowok incerannya.. hehe.. maklum SMU... padahal, tidak ada kamus pacaran di otak ku pada saat itu... bahkan aku gak pernah ngeh kalau ada anak PDKT, kalo tidak teman-temanku yang heboh... ah... tapi romansa SMU selalu indah... masa-masa paling menyenangkan... Tapi yaaa... pada saat itu, sahabat bagiku hanya orang-orang yang dekat ketika mereka merasa nyaman... The end of the year, is the end of the friendship... habis massa SMU pasti juga sudah lupa gak tahu kemana.. sibuk dengan hidup masing-masing... dan kembali, aku tidak terlalu peduli...
Tapi, kembali.. aku dibuat tercengang ketika lebaran kemarin seorang teman SMU tiba-tiba sms dan bilang mau maen ke rumah... meskipun sempat lupa alamat rumahku, tapi yaaa... akhirnya nyampe juga... Dan dia masih inget dengan detil-detilnya ketika dia suka bercanda, saling olok dan biasanya hanya kutanggapi dengan senyum... kita memang 1 kelas. Tapi jarang berdiskusi ato bertegur sapa... Paling cuma ketika dia habis latihan maen band, dan aku habis latihan pramuka, kita gak sengaja ketemu trus dia suka becanda... anaknya memang periang... Dan yang bikin aku ketawa, ketika dia bilang, "dulu kamu orang yang paling dingin kalo aku godain, wid.." hahaha... sumpah... itu pengakuan terjujur yang aku terima... Dia memang suka becanda, dan biasanya aku menanggapi candaannya hanya dengan senyum... Dari ceritanya, aku mendengar banyak hal yang makin membuat aku tercengang tentang sahabat-sahabatku dulu... ada yang minggat dari rumah, ada yang terdampar jadi loper koran pdhl dulu dia anak orang yang kaya di daerahnya, ada yang jadi polisi pdhl dia dulu suka cabut waktu pelajaran... haha... begitu indah dan menyenangkan memiliki sahabat... Mengenangnya saja sudah membuatku tersenyum, dan merangkai kata sebanyak ini, apalagi kembali berada ditengah-tengah mereka... Pasti jauh lebih menyenangkan...
Aku tidak pernah menyangka... memiliki sahabat ternyata begituuuu indah...
Semenjak lepas SMU, hingga hari ini, rasa percaya diriku semakin bertambah.. aku tidak lagi merasa minder untuk berbicara ditengah-tengah sahabat-sahabatku.. Bahkan aku merasa bahagia ketika mereka mendengar apa yang aku bicarakan.. aku merasa berguna ketika mereka melakukan apa yang aku sarankan... merasa dihargai ketika mereka menanggapi pembicaraanku... dan aku... lengkaplah artiku sebagai makhluk sosial berkat mereka... tanpa mereka, mungkin aku tidak akan pernah tahu betapa berartinya berada diantara orang-orang yang tetap sayang meskipun tidak bertalian darah...
Terima kasih sahabat.... terima kasih untuk setiap tetes tinta yang engkau coretkan dalam lembar perjalananku... terima kasih untuk setiap tetes airmata yang engkau tumpahkan dalam mengiringi hariku... terima kasih untuk setiap derai tawa dalam ruang kehidupanku... terima kasih untuk setiap langkah yang telah kita lewati dalam merenda jiwa... terima kasih... terima kasih...
Langganan:
Postingan (Atom)