Rabu, 30 Januari 2008

Resah


Hari ini rasanya gak ada semangat. Resah sekali... Entah bermula dari mana... Shubuh tadi aku terbangun dengan perasaan yang kacau balau... Setelah sholat shubuh aku berusaha untuk memejamkan mata lagi. Belum lama aku memejamkan mata, sudah ada yang ketuk pintu kamarku.. biasa, ada anak-anak mau nongkrong buat nonton TV. So far, masih gak ada masalah. Tapi karena dari tadi ada yang ngajak ngobrol, padahal aku masih berusaha untuk tidur, jadinya sedikit gondok. Karena memang lagi gak mood buat ngobrol banget.. apalagi buat ngobrol hal-hal yang gak perlu, gosip di pagi hari, bikin aku makin gondok hebat... setelah tidak mendapatkan kepuasan tidur, akhirnya aku beranjak untuk mandi. Ambil handuk, ambil jepit rambut, o'oo... dimanakah gerangan jepit rambut ku... Aku malas untuk mencari lebih lanjut, dan akhirnya aku pake jepit yang agak gede.. Aku paling males pake jepit rambut yang ini, karena kelonggaran.. jadinya rambut berantakan semua, basah... Usai mandi, aku cari lagi itu jepit rambut kesayangan.. Hal yang paling aku benci dari kamarku sendiri, mencari barang yang aku biasa aku pakai.. karena aku terbiasa meletakkan segala sesuatunya sesuai tempatnya. Jadi ketika benda itu menghilang, aku paling marah besar, karena aku harus menghabiskan waktu untuk mencarinya.. Begitupun pagi itu.. Dengan ceracauan yang gak jelas, aku mencari jepit hitam sialan itu... Ketika satu orang mendengar ceracauanku, dengan enteng dia menjawab ada dikamarnya... WHATTT??? kok bisa... ternyata kemarin dia pinjam tanpa permisi terlebih dahulu... satu hal yang paling aku benci dari dia.. Karena hal ini bukan pertama kalinya dia melakukan perbuatan itu di kamarku.. uuhhh.. akhirnya lengkap sudah keresahan mewarnai hari ini... Ditambah lagi kerjaan-kerjaan dikantor yang gak bisa diberesin.. haduuuhh makin bikin otakku jadi tambah gak karuan... Rasanya aku pengen cepet-cepet sampai kamar, peluk guling, kunci pintu, baca buku... that's it... Resah rasanya menahan rasa jengkel, amarah, gondok... lebih baik aku tidur sebelum ada korban lebih lanjut... hiks... hiks... Aku pengen pulang ke kamarkuuuu....
May tommorow I have a better day... amien...
-case closed-

Selasa, 22 Januari 2008

Tetangga Baruku

Duluuuu sekali aku pernah bikin blog dengan judul yang sama.. Tapi untuk yang satu ini lain cerita. Karena sudah dari 6 bulan yang lalu aku pindah kost, jadi aku punya tetangga yang baru lagi. Setiap kost akan memiliki kesan yang berbeda-beda dengan segala keadaan, masalah dan tetangga-tetangganya... Kali ini aku pindah kost di tempat yang lebih dekat dengan kantor. Selain untuk menghemat anggaran juga karena kuliah sudah kelar. Aku menempati kamar nomor 28. My lucky number... :)
Tetangga yang akan aku ceritakan kali ini usianya beberapa tahun dibawahku... Anggaplah namanya Nanda. Bukan nama sebenarnya sih.. untuk menghormati privasi sang empunya nama. Nanda adalah seorang gadis yang ceria, centil dan ayu... Keceriaannya selalu mewarnai suasana pagi di kost. Sapaan dan tawanya selalu menggema di lorong kost... Kecentilannya selalu dapat memberikan seulas senyum untuk wajah teman-temannya. Kemanjaannya dapat kami maklumi karena usianya yang paling muda diantara kami. Paras ayu nya proporsional dengan kecentilannya. Paras khas wanita-wanita etnik indonesia dengan dagu yang molek. Namun yang akhir-akhir ini membuatku gusar adalah hobi pemalas dan mengeluhnya.
Pernah suatu kali kita lagi ngumpul makan bareng di kamarku. Semua anak bawa makanan dan peralatan makannya sendiri-sendiri. Tidak demikian dengan si nanda. Dia hanya datang membawa makanannya. Bahkan air minum buat dirinya pun dia tidak bawa. Dengan suara manjanya dia minta aku air minum. Aku iyakan saja permintaannya, toh hanya sekedar air minum. Tak lama kemudian dia merengek pengen minum es... Temenku menyarankan untuk minta ke mbak wiek yang kebetulan tadi beli es batu banyak. Dan dengan entengnya dia minta pinjam gelas juga karena gelasnya dia belum dicuci semua. Begitu mendengar rengekannya kali ini, mulutku udah gak tahan untuk kasih komentar... Komentar yang kuberikan memang sedikit pedas. Tapi tidak ada maksud dihatiku untuk marah atau jengkel... Aku hanya ingin dia tahu dan sadar bahwa suatu saat dia musti mandiri. Teman-temannya disini yang sudah seperti kakaknya tidak akan selamanya punya waktu hanya untuk mendengar rengekan manjanya.. Itu berarti tidak pada setiap orang dia bisa bermanja setiap saat.. Harus tahu kondisi dan situasi. Belajar mandiri karena segala sesuatu akan lebih baik bila dapat dikerjakan sendiri tanpa mesti merepotkan orang lain. Memang ada saatnya kita rapuh dan membutuhkan pertolongan orang lain atau sekedar bermanja.. tapi itu tidak setiap saat setiap waktu dapat kita lakukan, apalagi pada setiap orang.. enggak banget... iya gak sih??!
Tentang sifat pengeluhnya ini, aku bilang mendekati akut... kenapa mendekati, karena menurutku sebenarnya masih bisa disembuhkan dengan shock therapy.. hehehe... untuk ukuran anak kuliah, dia memang lumayan sibuk. Karena sedang melakukan kerja praktik di sebuat Rumah Sakit. Kebetulan jurusan yang dia ambil memang perawat. Layaknya orang bekerja di rumah sakit, dia pun mendapat jatah shift yang berbeda-beda setiap harinya. Tak jarang dia harus lembur dengan begadang di rumah sakit semalam suntuk, pulang esok harinya. Mengeluh capek sewaktu-waktu memang sah-sah saja... Karena mengeluh memang suatu hal yang manusiawi banget... namun tidak dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara... Seperti ketika aku kebetulan sedang mencuci baju dibelakang... Tiba-tiba dia datang untuk ikut mencuci baju. Karena ketika itu jemuran sedang penuh, aku menyarankan untuk mencuci keesokan harinya... Dengan ketusnya dia menjawab kalo besok dia sibuk harus berangkat ke rumah sakit lagi... waktu itu aku hanya menanggapinya dengan senyum. Namun senyumanku diartikan lain olehnya... dengan sedikit sewot dia melanjutkan kalo dia bukannya sok sibuk, tapi memang benar-benar sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan praktik kerja. lalu aku lanjutkan pertanyaanku, sudah tahu seperti itu kenapa tidak dicuci dari tadi pagi, sebelum jemuran jadi penuh.. masih dengan nada ketusnya dia bilang kalo dia capek berat.. haduuuhh... kayaknya pertanyaanku salah terus ya... basa-basi sama dia terasa jadi basi beneran.. hehe... Begitupun kejadian pagi ini, ketika aku akan berangkat kerja.. Dengan iseng aku sapa dia sambil menanyakan apakah hari ini dia libur?? dengan entengnya dia jawab kalo hari ini dia bisa libur dia akan bersyukur dan mengadakan selamatan dadakan... dueengg.. aku jadi shock berat (bahasa sby: cegeg) heuheu... dalam hati aku cuman berkata, belum tahu dia kalo Tuhan benar-benar kasih dia libur seumur hidup... heuheu.. baru tahu dia arti kata bersyukur.. hahaha... tapi aku hanya bisa ketawa sambil berujar, ah dasar anak kecil... hehehe...
Aah.. namun itulah dia dengan segala sifatnya.. dengan kemanjaannya, dengan kecentilannya, dengan keluhannya, dengan kemalasannya selalu mewarnai hari-hariku.. Ada dia selalu membuat hariku terasa berbeda setiap harinya.. Dengan kecentilannya dia selalu membuat aku tersenyum.. dengan kemalasannya dan keluhannya selalu membuat aku uring-uringan... Kemanjaannya yang selalu membuat aku gondok berat.. karena aku paling risih kalo dengar suara-suara rengekan manjanya... rasanya pengen tak timpuk meja.. hehehe... Dia, tetanggaku yang menyumbangkan karakternya untuk membentuk karakterku hingga menjadi aku yang seperti hari ini.. Aku yang dapat menulis sekian banyak hanya untuk dia... Dia adalah partikel yang diberikan Tuhan untuk hariku... untuk kupetik sebuah pelajaran darinya.. untuk aku dapat belajar momong dan bersabar... Terima kasih untuk menjadi partikel yang begitu berbeda dalam diriku... Terima kasih.. Terima kasih.. :)

Selasa, 15 Januari 2008

Dibongkar, Situs-Situs Nabi di Makkah, Yang Dibongkar dan Yang Terancam Dirobohkan(1)

Jawa Pos - Selasa, 15 Jan 2008,

Rumah Abu Bakar Jadi Akses Jalan Hotel Hilton
Untuk mengisi waktu yang agak panjang selama berhaji (sekitar 40 hari), kebanyakan jamaah berziarah ke tempat-tempat bersejarah, yang di antaranya terancam dibongkar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Kurniawan Muhammad yang baru saja pulang dari haji.

Pagi itu, jarum jam di Makkah menunjukkan sekitar pukul 09.00 (di Indonesia lebih cepat empat jam). Saya saat itu berada di sebelah timur di halaman luar Masjidilharam. Ketika melintas di bawah tiang lampu (dari beberapa tiang lampu yang ada), terlihat beberapa orang dari Pakistan sedang mengaji Alquran sambil menangis. Mereka bergerombol di bawah salah satu tiang lampu itu.

"Mengapa mereka tidak mengaji di dalam masjid saja? Bukankah pada jam-jam itu, di dalam masjid sedang longgar?" demikian pertanyaan yang mampir di benak saya.

Ternyata bukan hari itu saja saya menemui pemandangan orang bergerombol di bawah tiang lampu tersebut sambil mengaji. Esoknya, beberapa orang melakukan hal yang sama di tempat itu. Kali ini dari Bangladesh.

Mengapa mengaji di bawah lampu itu? Pertanyaan ini baru terjawab ketika KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Nur Haromain, Pandegiling, tempat saya bergabung selama beribadah haji mengajak ke tempat tersebut, beberapa hari kemudian. "Tempat ini dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Siti Khadijah. Di sinilah dulu Nabi dan istrinya mengasuh anak-anaknya, hingga akhirnya Nabi hijrah setelah dikepung orang-orang Quraish," kata Ustad Ghazali Abdi, salah satu pembimbing KBIH Nur Haromain.

Lantas mengapa orang-orang membaca Alquran di tempat itu? "Karena ayat-ayat Alquran banyak diturunkan di sana. Setelah membaca Alquran, biasanya mereka lantas berdoa untuk keluarganya, agar bisa seperti keluarga Nabi," ujarnya.

Saya dan beberapa jamaah lain satu rombongan baru tahu saat itu bahwa lokasi di bawah tiang lampu tersebut dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Khadijah.

Di Arab Saudi, pembongkaran tempat-tempat bersejarah bukanlah hal aneh. Termasuk rumah Nabi Muhammad itu yang saat ini sama sekali tak ada jejaknya.

Menurut sejarah, di lokasi bekas rumah Khadijah itu sempat dibangun masjid oleh Muawiyah. Kemudian pada 1379 H (1959 M), bangunan tersebut diubah menjadi madrasah untuk putri. Enam tahun kemudian dibongkar untuk kepentingan perluasan Masjidilharam. Sekarang, jejak itu sama sekali tak ada.

Tak jauh dari tempat bekas rumah Nabi itu (jaraknya 10 - 15 meter), dibangun toilet untuk pria. Karena itu, kadang, ketika berada di tempat tersebut, aroma toilet terasa. "Tempat untuk toilet itu dulu rumah Abu Lahab (paman Nabi yang jahat)," cerita Ghazali yang sudah lebih dari lima kali mengantar jamaah haji ini. Di dekat rumah Nabi dibangun toilet? Itulah yang terjadi.

Pada 1998, pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga membongkar makam Siti Aminah, ibunda Nabi Muhammad SAW. Sehingga, para jamaah haji yang berangkat setelah itu mungkin akan kesulitan jika ingin menapak tilas makam tersebut.

Begitu juga rumah Abu Bakar (sahabat Nabi Muhammad) yang ada di Makkah, dibongkar untuk keperluan pembuatan jalan menuju ke Hotel Hilton.

Pikiran saya lantas terbang ke tanah air. Kalau saja bekas rumah Nabi atau makam ibunda Nabi berada di Indonesia, mungkin keberadaannya akan awet sampai sekarang. Bahkan, mungkin akan dibangun dengan semegah-megahnya. Bukankah makam para wali songo (penyebar Islam di Pulau Jawa), sampai sekarang tetap terjaga?

Pikiran juga terbang ke Surabaya. Saya teringat dengan cerita masjid yang bertahun-tahun berdiri di tengah jalan, kemudian dipersoalkan, karena dalam perkembangannya keberadaan masjid tersebut membuat arus lalu lintas menjadi tidak lancar.

Satu-satunya cara agar lalu lintas di sana lancar adalah membongkar masjid tersebut. Rencana ini pula yang dilakukan Pemkot Surabaya. Pemkot Surabaya bahkan sudah menjamin membangunkan masjid di tempat lain sebagai pengganti. Tapi, rencana tersebut ternyata tidak mudah. Butuh waktu beberapa tahun, karena ada kelompok masyarakat yang sempat menentang keras. Tapi, akhirnya masjid itu berhasil dibongkar akhir Desember 2007.

Di Surabaya, membongkar masjid yang jelas-jelas untuk kepentingan umum dan jelas-jelas akan dibangunkan di tempat lain, sulitnya minta ampun. Sedangkan di Arab Saudi, membongkar tempat bersejarah, meski belum tentu peruntukannya untuk kepentingan umum, gampangnya bukan main. (bersambung)

Jumat, 11 Januari 2008

Gadis Itu...

Cerita ini berawal ketika aku naik bemo sepulang dari Rungkut. Bemo yang kutumpangi tidak terlalu penuh, hanya ada 5 orang termasuk aku. Tak berapa lama, 3 orang penumpang, 2 wanita dan 1 pria turun di pertigaan rungkut industri. Tinggalah aku dan 1 orang penumpang lagi. Penumpang inilah yang akhirnya menggerakkan jari-jariku untuk menulis. Penumpang itu seorang gadis yang mungkin umurnya sebaya denganku. Dia mengenakan jilbab putih dan pakaian yang tampak sedikit lusuh. Bukan pakaian yang usang sebenarnya, hanya mungkin bekas-bekas setrika sudah hilang dimakan kepadatan jalan. Ketika tinggal kami berdua di bemo itu, dia mulai tersenyum padaku. Sambil bergumam yang kurang jelas dia menanyakan sesuatu padaku. Yang kutangkap dari gumamannya hanya kata "turun" dan "mana". Mungkin maksudnya mau menanyakan tujuanku. Dengan sedikit enggan aku menjawab tujuanku. Aku memang paling malas bercakap-cakap dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali. Bahkan mungkin dari nada bicaraku akan terlihat sedikit ketus. Selain aku takut sama orang yang tidak kukenal, sikap terlalu waspada membuat aku selalu membentengi diri dari siapa saja yang terasa asing buatku. Mungkin setelah mendengar jawabanku yang sedikit ketus, akhirnya gadis itu menghentikan senyum dan gumamannya. Tak berapa lama si gadis itu turun dari bemo. Yang membuatku shock dan sedikit terpukul, setelah si gadis turun dari bemo baru aku tahu kalau gadis tersebut cacat. Kaki dan tangan kirinya yang tidak sempurna, membuat jalannya terseok-seok sehingga (maaf) lebih terkesan semper... Ketika dia membayar ongkos bemo pada sopir, aku juga baru tahu ternyata dia memiliki kekurangan pada bicaranya. Barulah terjawab keherananku kenapa ketika berbicara denganku yang terdengar hanya gumaman-gumaman yang tidak jelas. Setelah itu aku tersadar bahwa sikapku yang terlalu takut dan waspada hanya menghasilkan kesan sombong dan arogan untuk gadis itu.. Sikap yang tidak seharusnya aku berikan pada setiap orang yang aku temui. Seandainya waktu dapat membukakan mataku lebih awal, mungkin aku akan dapat sedikit membantunya meski hanya dengan menemaninya ngobrol. Tapi yang aku rasakan saat itu, hatiku ingin sekali menangis dan berteriak, maaf... Penyesalan adalah sebuah pelajaran yang tiada terkira harganya... Pelajaran yang tidak akan diberikan di sekolah manapun juga selain sekolah kehidupan... Pelajaran untuk membuka mata lebih lebar lagi...