Inget mas Herry muter tembang-tembang jawa, jadi inget masa kecil dulu... Dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku dan Bapak sering beli makan di warung berdua. Hanya berdua saja... Tidak dengan ketiga adik laki-lakiku. Bapak selalu beralasan, enak ngajak makan mbak (panggilan Beliau buat aku, anak tertuanya) karena gak menghabiskan banyak uang. Kalau adik laki-lakiku yang makannya banyak, akan cukup menguras kantong Bapak. hehehe... Biasanya kita berjalan santai ke warung di seberang jalan, di sore hari sambil menikmati senja. Dengan tangan di gandeng Bapak, rasanya saat itu hatiku damai. Aku merasakan tidak akan pernah kehilangan Beliau. Akulah satu-satunya putri tercintanya... Biasanya sambil berjalan dan menggenggam tanganku, Beliau akan menyanyikan tembang jawa yang selalu sama... tembang seorang Bapak untuk anak perempuannya.
Tak Lelo Lelo Lelo Ledung
tak lelo lelo lelo ledung...
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
dadiyo wanita utomo
ngluhurke asmane wong tua
dadiyo pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadari
kaya ndas butho nggilani
agi nggoleki cah nangis
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga anakku cah ayu
tak emban slendang batik kawung
yen nangis mudak gawe bingung
tak lelo lelo ledung..
Tembang yang akan selalu terasa indah dan damai dihatiku... Tembang yang sama yang akan aku nyanyikan untuk anak-anakku kelak. Rasa damai yang akan aku tularkan juga ke anak-anakku. Apapun yang telah dilakukan Bapak, beliau tetap sosok yang selalu dapat memberikan rasa nyaman dan damai di hatiku. Beliau tetap menjadi sosok yang turut menggoreskan tinta emasnya pada kehidupanku. Sosok yang memberikan andil besar dalam mengguratkan takdirnya pada kepribadianku... Terima kasih Bapak... Do'a tulus dan baktiku tidak akan pernah pupus untukmu...