Beberapa bulan ini sudah banyak luka yang tertoreh. Begitu banyak rasa sakit yang hinggap. Banyak sekali air mata yang menetes. Hingga entah berapa lama aku lupa cara tersenyum tulus. Bahkan bermimpi merupakan sesuatu yang mahal bagiku. Bila diurai satu per satu mungkin otak dan hatiku tak akan pernah bisa berbentuk lagi. Bersyukur aku tak sampai menghabiskan sisa hidup dan berakhir di Rumah sakit jiwa.
Sekarang... Saat ini, aku tak ingin berbicara tentang luka itu. Luka itu telah tergores. Sakit itu telah terlanjur aku rasakan. Saat ini aku ingin berbicara tentang harapan. Apabila mimpi masih menjadi sesuatu yang mahal bagiku, biarkan harapku terbang bebas bersama awan jingga. Harapku tentang hatiku, harapku tentangnya, harapku tentang mereka, harapku tentang mimpi itu sendiri.
Bidak-bidak harapan itu mulai kuatur... satu persatu, mulai kususun... harapan tentang memiliki mimpi yang indah... harapan untuk diperkenankannya meminjam mimpi-mimpi mereka...
Aku ingin merenovasi ulang rumah jiwaku yang telah berantakan. Aku ingin membangun perpustakaan kehidupanku. Melengkapi bangunan itu dengan bunga warna-warni, pelangi dan awan jingga sebagai latarnya. Aroma wangi bunga dan segarnya rumput yang akan mengundang banyak kupu-kupu. Kupu-kupu persahabatan yang telah membantu aku merenda hari-hari, dan menemaniku melewati kerikil dan lumpur. Gemiricik air dari sungai kehidupan yang menenangkan dan menyejukkan jiwa.
Hingga suatu hari nanti, aku bisa membantu mereka melewati masa-masa sulit. Membantu mereka berdiri dan membangun rumah jiwa mereka. Berbagi buku di perpustakaanku. Mengajar mereka bermain dalam kecipak air. Mengajari mereka berenang, agar tak terhanyut dalam derasnya arus...
Aku ingin terbang bersama harapku... dalam awan jingga itu...
Sabtu, 27 Juni 2009
Jumat, 12 Juni 2009
Silent
Kenyataan bahwa kadang aku harus menutup kedua mata dan telingaku dari segala hal di masa lalu. Mendengar dan melihat semua itu, seperti kembali menapaki jalan berkerikil yang tajam. Seperti menelan pil pahit dengan menutup hidung. Manusia memang sering sibuk dengan dirinya sendiri.. sibuk dengan hatinya, kebahagiaannya... Aku mencoba melangkah, mengabaikan hatiku. Karena ia telah terlalu hancur, hingga nafas pun tersengal. Terlalu banyak pil pahit yang harus ku telan, hingga membuatku kehabisan nafas, menutup hidung. Air mata kembali bersembunyi, saat ini aku ingin melihat orang lain bahagia. Saat ini aku ingin segera menyudahi perasaan sakit, bukan hanya sakitku, tapi sakit mereka. Kalau memang aku harus menghentikan detak jantung kebahagiaanku untuk itu, sekuat hati aku ingin melakukannya... bodoh mungkin... tapi aku sudah terlalu penat untuk menghiraukan kebodohan itu... Batu itu tajam dan terlalu banyak... aku hanya bisa melangkah dalam kepasrahan Illahi. Aku ingin merengkuh kebahagiaan itu melalui kebahagiaan dan senyum mereka. Mungkin bukan hanya untuk mereka, juga untuk diriku sendiri.. untuk aku... untuk diriku...
Langganan:
Postingan (Atom)