Selasa, 31 Maret 2009

Benang Warna-Warniku

Dulu sekali saya pernah berkata pada seorang teman. Bahwa jika hidup ini sebuah perjalanan, maka saat ini saya harus menyebrang. Pada saat itu memang hati saya sedang remuk, luruh, menjadi kepingan-kepingan yang saya hampir tak bisa mengenali lagi bentuknya. Dan ketika menyebrang, saya memilih menyebrang di zebra cross. Saya tengok kanan dan kiri, semua mobil dan motor sudah berhenti. Ada seorang polisi yang membantu saya menyebrang, dengan meniup peluitnya untuk menyetop laju kendaraan. Saya merasa keadaan sudah aman untuk saya menyebrang. Dan akhirnya menyebranglah saya... Tanpa saya sadari ada sepeda motor yang nyelonong, dan menabrak saya kemudian melarikan diri... Orang lain sudah teriak-teriak, pengendara itu tak peduli dan terus memacu laju sepeda motornya. Yang saya sadari saat itu, saya merasa sakit... sakit sekali... Mungkin ada tulang saya yang patah. Seperti hati saya yang remuk. Orang-orang itu pun membantu saya, membawa saya ke Rumah sakit. Dan rasa sakit itu, amat-sangat menyiksa saya... Sakiit sekalii... Saya sempat marah sama pengendara motor yang tidak bertanggung jawab itu. Saya sempat marah sama polisi itu yang tidak bisa menangkap sang pengendara motor. Namun akhirnya saya sadar, kemarahan saya tidak bisa membuat luka saya menjadi sembuh. Kemarahan saya tidak bisa menyatukan kembali tulang saya yang retak. Jadi untuk apa saya harus menuruti rasa amarah saya. Saya sudah merasakan sakit itu. Dan saya tidak mau menempatkan diri saya sebagai korban. Saya ingin membawa perasaan sakit saya ini sebagai kamus kehidupan saya. Bahwa saya pernah merasakan sakit yang seperti ini. Merasakan tulang yang retak. Sehingga suatu saat ketika ada teman atau orang yang patah tulang, saya bisa berempati pada mereka. Memberikan support terbaik saya untuk mereka. Saya ingin menjadikan kejadian yang saya alami, perasaan yang saya rasakan ini sebagai hal yang memperkaya khasanah kehidupan saya. Dan saya yakin, Tuhan itu maha memberi yang terbaik. Saya merasa saya sudah melakukan yang terbaik sebatas kemampuan saya sebagai manusia. Saya sudah menyebrang di zebra cross, saya sudah tengok kanan dan kiri, dan polisi pun sudah memberikan aba-abanya untuk menyebrang, tapi ternyata saya masih juga tertabrak motor. Untuk hal baik yang sudah saya lakukan, saya yakin pada akhirnya saya akan mendapatkan kebahagiaan. Entah itu dalam bentuk apa. Bisa saja dengan kehadiran teman-teman saya, menengok saya itu bisa menghibur saya, membuat saya tersenyum dan merasa bahwa saya tidak sendiri melewati masa sakit itu. Ketulusan mereka bisa membuat luka saya sembuh lebih cepat. Namun jikalau pada akhirnya saya masih tertabrak juga, mungkin saya masih teledor. Masih ada kekurangan dalam diri saya, sehingga diantara sekian orang yang menyebrang bersama saya, hanya saya yang tertabrak. Mungkin saya terlalu percaya pada keadaan yang saya anggap sudah aman, sehingga menurunkan tingkat kewaspadaan saya. Dan dari situ saya bisa belajar bahwa kita tidak bisa menjamin akan suatu keadaan. Hati-hati itu perlu. Apapun keadaannya. Dan saya tidak pernah menduga, justru di Rumah sakitlah saya belajar tentang banyak hal. Justru di Rumah sakitlah, yang orang bilang tempatnya orang yang sakit dan menderita, saya mendapatkan kebahagiaan saya. Dan di Rumah sakitlah saya bersekolah tentang kehidupan, sekolah yang sangat mahal harganya. Saya tidak perlu mencari pengendara itu dan menanyakan tanggung jawabnya. Saya tidak perlu memukul atau memaki pengendara itu untuk membalas rasa sakit saya. Karena saya tahu, dia tidak perlu timpukan sendal atau lemparan batu untuk merasa bersalah. Dia punya nurani. Dia punya mata, dia bisa melihat. Dan suatu saat dia juga akan terusik hatinya karena perasaan bersalah itu. Saya tidak perlu memikirkan dendam atau amarah saya. Juga tidak perlu memikirkan balasan apa yang tepat untuk dia. Saya tidak perlu menjadi risau untuk hal-hal yang tidak perlu saya risaukan. Saya hanya perlu sembuh, bangkit dan berjalan kembali. Menatap ke depan.
Dan entah apakah Tuhan benar-benar membaca hati saya, 3 hari kemarin banyak teman-teman lama yang menanyakan kabar saya. Teman-teman yang tidak saya duga-duga masih ingat sama saya. Sungguh saya merasa bersyukur sekali. Mereka ikut menyumbangkan benang warna-warninya untuk menjahit luka saya. Dan benang itu meskipun warnanya tidak beraturan tapi indah di mata saya. Saya jadi tahu rasanya dijahit dengan benang warna merah, biru, putih, hitam, kuning. Dan benang-benang itu menjadi jalinan yang indah di hati saya. Terima kasih Tuhan untuk setiap inci luka dan setiap kerikil di jalan saya. Terima kasih Tuhan untuk setiap pelajaran yang Engkau berikan dengan caraMu. Terima kasih untuk mengijinkan saya mencicipi begitu banyak rasa di kehidupan ini. Terima kasih untuk setiap kekuatan yang engkau tambahkan di hati dan pundak saya dalam setiap rasa dan luka itu. Terima kasih telah mengirimkan "malaikat-malaikat"-Mu dengan benang warna-warninya untuk saya. Terima kasih untuk setiap hela udara yang masih engkau ijinkan untuk saya hirup hingga detik ini. Terima kasih... Terima kasih... :)

Selasa, 17 Maret 2009

Please be careful with my heart - Jose Mari Chan

If you love me like you tell me please be careful with my heart
you can take it just don't break it or my world will fall apart
you are my first romance and i'm willing to take a chance
that 'til life is through i'll still be loving you
I will be true to you just a promise from you will do
from the very start please be careful with my heart

I love you and you know I do there'll be no one else for me
promise i'll be always true for the world and all to see
Love has heard some lies softly spoken
and I have had my heart badly broken
i've been burned and i've been hurt before

So I know just how you feel trust my love is real for you
i'll be gentle with your heart i'll caress it like the morning dew
i'll be right beside you forever I won't let your world fall apart
from the very start i'll be careful with your heart

you are my first *and you are my last* romance
and i'm willing to take a chance *i've learned from the past*
that 'til life is through i'll still be loving you
I will be true to you *only to you*
just a promise from you will do
from the very start *from the very start*
from the very start *from the very start*
from the very start please be careful with *i'll be careful with* (*my your heart*)

Rabu, 11 Maret 2009

Tasteless 2

Air mata telah mengering
Senyum terasa hambar
Luka telah membatu
Aku tak lagi dapat merasa
rasa yang dulu pernah ada...

Selasa, 10 Maret 2009

Tasteless

Apakah kehidupan memang harus seperti mata uang..?? Hanya ada 2 sisi yang berlainan. Hitam dan putih.. Tidak adakah sisi abu-abu... Terkadang aku tidak tahu harus berdiri dimana... Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah... Aku tidak tahu apakah ini baik atau buruk... Terkadang aku hanya ingin berjalan. Tapi aku tahu, akan selalu ada kerikil dan rintangan yang akan membuat aku harus menoleh, ke kiri atau ke kanan... dan aku harus melangkah, maju atau mundur untuk menghindari rintangan... Karena aku harus tetap berjalan...
Hingga hari ini aku berdiri di satu titik, dimana aku tidak dapat lagi merasakan apapun. Sedih, marah, suka, gembira, gundah, atau apakah itu namanya...??? lidah ini seperti beku... tak mau merasa... hati ini hampa, tak tahu apa yang dirasa... Bahkan airmata atau setitik senyum pun tak mau keluar dari mata dan bibir... Kemana semuanya...??? Perasaan apa ini???
fiiuuhh... Apakah ini memang sebuh titik yang disiapkan untukku..?? sebuah waktu yang diberikan untukku menetralkan semuanya... Waktu dimana aku harus melakukan sesuatu yang selama ini seharusnya telah aku lakukan... Tapi terlalu kerdil bagiku untuk melakukan hal yang begitu berarti... apakah ini nantinya benar atau salah, baik atau buruk??? Aku tak dapat merasakannya... kosong....
Tapi aku yakin, akan ada tangan-tangan gaib yang akan merengkuhku dalam hangatnya Cahaya... Dan aku harus melakukan apa yang seharusnya aku lakukan...