Sabtu, 25 Oktober 2008
Untitled
Katanya, kehidupan bagai dua sisi mata uang yang berbeda. Akan ada selalu dua pilihan. Dan selalu bebas untuk memilih. Namun terkadang kepingan itu terasa sangat tipis. Membuat bimbang sisi yang mana yang akan dipilih. Tiap-tiap sisi memiliki resikonya sendiri-sendiri. Seperti hati yang saling bersilangan. Memiliki pendapatnya sendiri-sendiri. Terkadang, sangat sulit untuk dapat menerima pendapat dan keinginan orang lain sesuai dengan jalan pikiran kita. Tapi manusia diciptakan sebagai mahluk sosial. Bagaimana jika pilihannya hanya take it or leave it. fiuuhh... memang benar, manusia selalu membuat segalanya menjadi nampak rumit dan membingungkan. Hal yang seharusnya mudah, menjadi susah dimengerti... Seandainya selalu bisa membuat segalanya nampak menjadi mudah dan sederhana... Ah tapi itulah, perjalanan yang harus ditempuh untuk selalu menjadi mengerti...
Jumat, 16 Mei 2008
Tribute to My Dad
Inget mas Herry muter tembang-tembang jawa, jadi inget masa kecil dulu... Dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku dan Bapak sering beli makan di warung berdua. Hanya berdua saja... Tidak dengan ketiga adik laki-lakiku. Bapak selalu beralasan, enak ngajak makan mbak (panggilan Beliau buat aku, anak tertuanya) karena gak menghabiskan banyak uang. Kalau adik laki-lakiku yang makannya banyak, akan cukup menguras kantong Bapak. hehehe... Biasanya kita berjalan santai ke warung di seberang jalan, di sore hari sambil menikmati senja. Dengan tangan di gandeng Bapak, rasanya saat itu hatiku damai. Aku merasakan tidak akan pernah kehilangan Beliau. Akulah satu-satunya putri tercintanya... Biasanya sambil berjalan dan menggenggam tanganku, Beliau akan menyanyikan tembang jawa yang selalu sama... tembang seorang Bapak untuk anak perempuannya.
Tak Lelo Lelo Lelo Ledung
tak lelo lelo lelo ledung...
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
dadiyo wanita utomo
ngluhurke asmane wong tua
dadiyo pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadari
kaya ndas butho nggilani
agi nggoleki cah nangis
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga anakku cah ayu
tak emban slendang batik kawung
yen nangis mudak gawe bingung
tak lelo lelo ledung..
Tembang yang akan selalu terasa indah dan damai dihatiku... Tembang yang sama yang akan aku nyanyikan untuk anak-anakku kelak. Rasa damai yang akan aku tularkan juga ke anak-anakku. Apapun yang telah dilakukan Bapak, beliau tetap sosok yang selalu dapat memberikan rasa nyaman dan damai di hatiku. Beliau tetap menjadi sosok yang turut menggoreskan tinta emasnya pada kehidupanku. Sosok yang memberikan andil besar dalam mengguratkan takdirnya pada kepribadianku... Terima kasih Bapak... Do'a tulus dan baktiku tidak akan pernah pupus untukmu...
Tak Lelo Lelo Lelo Ledung
tak lelo lelo lelo ledung...
cup menenga aja pijer nangis
anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune
tak gadang bisa urip mulyo
dadiyo wanita utomo
ngluhurke asmane wong tua
dadiyo pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadari
kaya ndas butho nggilani
agi nggoleki cah nangis
tak lelo lelo lelo ledung
cup menenga anakku cah ayu
tak emban slendang batik kawung
yen nangis mudak gawe bingung
tak lelo lelo ledung..
Tembang yang akan selalu terasa indah dan damai dihatiku... Tembang yang sama yang akan aku nyanyikan untuk anak-anakku kelak. Rasa damai yang akan aku tularkan juga ke anak-anakku. Apapun yang telah dilakukan Bapak, beliau tetap sosok yang selalu dapat memberikan rasa nyaman dan damai di hatiku. Beliau tetap menjadi sosok yang turut menggoreskan tinta emasnya pada kehidupanku. Sosok yang memberikan andil besar dalam mengguratkan takdirnya pada kepribadianku... Terima kasih Bapak... Do'a tulus dan baktiku tidak akan pernah pupus untukmu...
Selasa, 29 April 2008
Wahai Dunia...
Wahai Dunia...
Kini semakin carut marut...
Berita di Koran dan Internet semakin membuat kepala selalu menggeleng..
Tak percaya, tapi terjadi...
Aneh, tapi nyata...
Ada bapak sekap anak kandungnya selama 24 tahun...
Memperkosanya, hingga membuahkan 7 orang anak...
Mau panggil apa dia pada bapaknya?? Ayah?? yang ternyata juga kakeknya...
Apalagi sampai ibu si gadis dan tetangga - tetangga nya tidak tahu sama sekali
Duh Duniaa...
Sebegitu egoisnya kah dirimuuu...
Lain lagi yang ada di Malang...
Katanya ada masjid tiban...
Masjid yang tiba-tiba ada...
katanya dibangun sama Jin dan konco-konconya...
Megah, sampe 8 tingkat, lengkap dengan lift nya...
Oalaaahhh....
Sebegitu digdayanya Gusti Allah...
Subhanaallah...
Oooohhh.... Dunia....
Kini semakin carut marut...
Berita di Koran dan Internet semakin membuat kepala selalu menggeleng..
Tak percaya, tapi terjadi...
Aneh, tapi nyata...
Ada bapak sekap anak kandungnya selama 24 tahun...
Memperkosanya, hingga membuahkan 7 orang anak...
Mau panggil apa dia pada bapaknya?? Ayah?? yang ternyata juga kakeknya...
Apalagi sampai ibu si gadis dan tetangga - tetangga nya tidak tahu sama sekali
Duh Duniaa...
Sebegitu egoisnya kah dirimuuu...
Lain lagi yang ada di Malang...
Katanya ada masjid tiban...
Masjid yang tiba-tiba ada...
katanya dibangun sama Jin dan konco-konconya...
Megah, sampe 8 tingkat, lengkap dengan lift nya...
Oalaaahhh....
Sebegitu digdayanya Gusti Allah...
Subhanaallah...
Oooohhh.... Dunia....
Selasa, 18 Maret 2008
Balada Dua Orang Sahabat
Annastacia dan Sagita. Begitulah aku menyebutnya. Dua orang sahabat bersahabat yang berkomitmen untuk saling menjaga. Annastacia, adalah bukan nama sebenarnya. Annas, teman-teman yang lain menyebutnya. Karena terlalu imut dan mungil, aku lebih suka menyebutnya Annastacia. Jenis kelamin aslinya adalah laki-laki. Murni Laki-laki. Seorang laki-laki yang memiliki tingkat intelegensi sedikit lebih tinggi dibanding sahabatnya, Sagita. Laki-laki dengan perawakan kecil, mungil, dan tatanan rambut emo habis... Sedang sahabatnya, Sagita memiliki nama lengkap Satwa Sagita. Teman-teman yang lain lebih suka memanggil Gowok/Wowok. Nama panggilan antar laki-laki, menurutku. Untuk menghormati nama pemberian orang tuanya, aku lebih suka memanggil Sagita daripada Satwa. Tentu dengan jenis kelamin laki-laki. Sahabat yang satu ini, memiliki tingkat kekuatan tubuh sedikit lebih tinggi dibanding sahabatnya, Annas. Laki-laki yang sering kurang percaya diri dengan kemampuan dirinya. Padahal, apabila dia sedikit lebih percaya diri, kemampuannya pun tak kalah dari sahabatnya. Lebih suka mengerjakan pekerjaan lapangan, daripada harus berkutat di kantor dengan compile-compile dan install-install yang membuat kepala pusing. Berbeda dengan annas yang lebih suka berkutat di depan komputer demi mempelajari routing-routing baru meski badan makin kurus dan tifus setia mengintai. Meskipun secara kasat mata dua bersahabat tersebut berbeda, namun mereka kompak dan seolah berkomitmen untuk saling menjaga. Annas tidak akan tega meninggalkan kantor, jika yang ada di kantor hanya Sagita sendirian. Sagita yang mudah bingung dan demam mendadak jika menerima komplain customer akan sangat terbantu dengan kehadiran Annas. Dan Sagita pun tidak akan meninggalkan kantor, jika giliran Annas lembur di kantor. Annas yang penakut akan merasa sangat aman jika ada Sagita di kantor. Sagita yang selalu merasa kurang percaya diri, akan selalu merasa nyaman bertanya kepada Annas jika menemui kesulitan pada tugas-tugas kantornya, daripada harus diolok-olok habis-habisan sama teman-teman yang lain. Jika Sagita mendapat jatah giliran membawa pulang sepeda motor kantor, dia akan bersedia mengantarkan Annas pulang ke kost terlebih dahulu. Kekompakan mereka tidak berhenti disitu. Jikalau anak-anak yang lain lebih suka saling menjadi lawan kalau maen game komputer, mereka lebih suka bersekutu dalam game melawan komputer. Dan Annas tak segan berteriak meminta bantuan, jika lawan mulai mengganas di game. Sagita pun akan berlari sekuat tenaga demi menolong sahabatnya yang terjepit diserang lawan. Jangan salah duga. Persahabatan mereka adalah murni persahabatan. Bukan hubungan yang diwarnai asmara... heuheu... murni persahabatan. Terbukti, masing-masing telah memiliki gebetan masing-masing, yang dua-duanya adalah murni berjenis kelamin wanita. Layaknya kakak beradik, perasaan saling menjaga mereka adalah suatu komitmen yang tak pernah perlu untuk diucapkan...
Kamis, 13 Maret 2008
Galau
Hatiku galau... Dipenuhi rasa marah, sedih, dan gundah...
Aku marah pada kesewenangan...
Aku marah pada kemalasan...
Aku sedih pada ketidak-teraturan...
Aku sedih pada ketidak-sabaran...
Aku gundah pada ketidak-tahuan...
Aku gundah pada marah dan sedih...
Aku Galau...
Aku marah pada kesewenangan...
Aku marah pada kemalasan...
Aku sedih pada ketidak-teraturan...
Aku sedih pada ketidak-sabaran...
Aku gundah pada ketidak-tahuan...
Aku gundah pada marah dan sedih...
Aku Galau...
Jumat, 15 Februari 2008
Hati Biru
Hati sepi..
Jiwa merindu
Dimana langit biru
Berarak tiada kawan
Langit semakin pekat
Nafas semakin berat
Sesak rindu menggelora
Menahan sukma terbang melayang
Jiwa merindu
Dimana langit biru
Berarak tiada kawan
Langit semakin pekat
Nafas semakin berat
Sesak rindu menggelora
Menahan sukma terbang melayang
Senin, 11 Februari 2008
The Bridge
Sangat manusiawi... Setelah dipikir-pikir, postingan dibawah adalah hal yang sebenarnya sangat tidak perlu diributkan.. Meskipun tidak akan pernah mau lagi mengulang mengalami hal yang sama, tetapi lucu juga ketika marah-marah hanya karena masalah sepele. Tapi, tak mengapa, semua memang perlu pembelajaran...
Hari ini lagi ribut-ribut masalah kredit rumah... Anak-anak kantor lagi rame-rame pengen beli rumah, mumpung ada penawaran yang menarik... Menarik sekali sih penawarannya... Tapi buat aku, aku harus berpusing-pusing dulu untuk cari uang muka, memikirkan rencana untuk cari biaya cicilan bulanannya, dan teteng bengek lainnya... karena berarti aku harus benar-benar puasa menahan segala keinginan untuk jajan dan belanja buku, bila jadi ikutan beli rumah... hiks... Dan berarti pula aku harus putar otak 1000 kali untuk mencari dana untuk uang muka... duuuhh... berani gak yaaa... dapat gak yaaa... trus, nantinya gimana yaa... pengeen banget punya rumah atas hasil keringat sendiri... Tapi memang penuh perjuangan... aahh... Jalan memang gak selamanya mulus, kali ini dapat yang lumayan bergelombang nih... meski baru liat aja, tapi suatu saat aku pasti melalui tahapan untuk berjalan di jalan itu... sanggup gak yaa... harus.. harus... dan harus.. hiks... Bismillahirohmanirohim...
Hari ini lagi ribut-ribut masalah kredit rumah... Anak-anak kantor lagi rame-rame pengen beli rumah, mumpung ada penawaran yang menarik... Menarik sekali sih penawarannya... Tapi buat aku, aku harus berpusing-pusing dulu untuk cari uang muka, memikirkan rencana untuk cari biaya cicilan bulanannya, dan teteng bengek lainnya... karena berarti aku harus benar-benar puasa menahan segala keinginan untuk jajan dan belanja buku, bila jadi ikutan beli rumah... hiks... Dan berarti pula aku harus putar otak 1000 kali untuk mencari dana untuk uang muka... duuuhh... berani gak yaaa... dapat gak yaaa... trus, nantinya gimana yaa... pengeen banget punya rumah atas hasil keringat sendiri... Tapi memang penuh perjuangan... aahh... Jalan memang gak selamanya mulus, kali ini dapat yang lumayan bergelombang nih... meski baru liat aja, tapi suatu saat aku pasti melalui tahapan untuk berjalan di jalan itu... sanggup gak yaa... harus.. harus... dan harus.. hiks... Bismillahirohmanirohim...
Rabu, 30 Januari 2008
Resah
Hari ini rasanya gak ada semangat. Resah sekali... Entah bermula dari mana... Shubuh tadi aku terbangun dengan perasaan yang kacau balau... Setelah sholat shubuh aku berusaha untuk memejamkan mata lagi. Belum lama aku memejamkan mata, sudah ada yang ketuk pintu kamarku.. biasa, ada anak-anak mau nongkrong buat nonton TV. So far, masih gak ada masalah. Tapi karena dari tadi ada yang ngajak ngobrol, padahal aku masih berusaha untuk tidur, jadinya sedikit gondok. Karena memang lagi gak mood buat ngobrol banget.. apalagi buat ngobrol hal-hal yang gak perlu, gosip di pagi hari, bikin aku makin gondok hebat... setelah tidak mendapatkan kepuasan tidur, akhirnya aku beranjak untuk mandi. Ambil handuk, ambil jepit rambut, o'oo... dimanakah gerangan jepit rambut ku... Aku malas untuk mencari lebih lanjut, dan akhirnya aku pake jepit yang agak gede.. Aku paling males pake jepit rambut yang ini, karena kelonggaran.. jadinya rambut berantakan semua, basah... Usai mandi, aku cari lagi itu jepit rambut kesayangan.. Hal yang paling aku benci dari kamarku sendiri, mencari barang yang aku biasa aku pakai.. karena aku terbiasa meletakkan segala sesuatunya sesuai tempatnya. Jadi ketika benda itu menghilang, aku paling marah besar, karena aku harus menghabiskan waktu untuk mencarinya.. Begitupun pagi itu.. Dengan ceracauan yang gak jelas, aku mencari jepit hitam sialan itu... Ketika satu orang mendengar ceracauanku, dengan enteng dia menjawab ada dikamarnya... WHATTT??? kok bisa... ternyata kemarin dia pinjam tanpa permisi terlebih dahulu... satu hal yang paling aku benci dari dia.. Karena hal ini bukan pertama kalinya dia melakukan perbuatan itu di kamarku.. uuhhh.. akhirnya lengkap sudah keresahan mewarnai hari ini... Ditambah lagi kerjaan-kerjaan dikantor yang gak bisa diberesin.. haduuuhh makin bikin otakku jadi tambah gak karuan... Rasanya aku pengen cepet-cepet sampai kamar, peluk guling, kunci pintu, baca buku... that's it... Resah rasanya menahan rasa jengkel, amarah, gondok... lebih baik aku tidur sebelum ada korban lebih lanjut... hiks... hiks... Aku pengen pulang ke kamarkuuuu....
May tommorow I have a better day... amien...
-case closed-
Selasa, 22 Januari 2008
Tetangga Baruku
Duluuuu sekali aku pernah bikin blog dengan judul yang sama.. Tapi untuk yang satu ini lain cerita. Karena sudah dari 6 bulan yang lalu aku pindah kost, jadi aku punya tetangga yang baru lagi. Setiap kost akan memiliki kesan yang berbeda-beda dengan segala keadaan, masalah dan tetangga-tetangganya... Kali ini aku pindah kost di tempat yang lebih dekat dengan kantor. Selain untuk menghemat anggaran juga karena kuliah sudah kelar. Aku menempati kamar nomor 28. My lucky number... :)
Tetangga yang akan aku ceritakan kali ini usianya beberapa tahun dibawahku... Anggaplah namanya Nanda. Bukan nama sebenarnya sih.. untuk menghormati privasi sang empunya nama. Nanda adalah seorang gadis yang ceria, centil dan ayu... Keceriaannya selalu mewarnai suasana pagi di kost. Sapaan dan tawanya selalu menggema di lorong kost... Kecentilannya selalu dapat memberikan seulas senyum untuk wajah teman-temannya. Kemanjaannya dapat kami maklumi karena usianya yang paling muda diantara kami. Paras ayu nya proporsional dengan kecentilannya. Paras khas wanita-wanita etnik indonesia dengan dagu yang molek. Namun yang akhir-akhir ini membuatku gusar adalah hobi pemalas dan mengeluhnya.
Pernah suatu kali kita lagi ngumpul makan bareng di kamarku. Semua anak bawa makanan dan peralatan makannya sendiri-sendiri. Tidak demikian dengan si nanda. Dia hanya datang membawa makanannya. Bahkan air minum buat dirinya pun dia tidak bawa. Dengan suara manjanya dia minta aku air minum. Aku iyakan saja permintaannya, toh hanya sekedar air minum. Tak lama kemudian dia merengek pengen minum es... Temenku menyarankan untuk minta ke mbak wiek yang kebetulan tadi beli es batu banyak. Dan dengan entengnya dia minta pinjam gelas juga karena gelasnya dia belum dicuci semua. Begitu mendengar rengekannya kali ini, mulutku udah gak tahan untuk kasih komentar... Komentar yang kuberikan memang sedikit pedas. Tapi tidak ada maksud dihatiku untuk marah atau jengkel... Aku hanya ingin dia tahu dan sadar bahwa suatu saat dia musti mandiri. Teman-temannya disini yang sudah seperti kakaknya tidak akan selamanya punya waktu hanya untuk mendengar rengekan manjanya.. Itu berarti tidak pada setiap orang dia bisa bermanja setiap saat.. Harus tahu kondisi dan situasi. Belajar mandiri karena segala sesuatu akan lebih baik bila dapat dikerjakan sendiri tanpa mesti merepotkan orang lain. Memang ada saatnya kita rapuh dan membutuhkan pertolongan orang lain atau sekedar bermanja.. tapi itu tidak setiap saat setiap waktu dapat kita lakukan, apalagi pada setiap orang.. enggak banget... iya gak sih??!
Tentang sifat pengeluhnya ini, aku bilang mendekati akut... kenapa mendekati, karena menurutku sebenarnya masih bisa disembuhkan dengan shock therapy.. hehehe... untuk ukuran anak kuliah, dia memang lumayan sibuk. Karena sedang melakukan kerja praktik di sebuat Rumah Sakit. Kebetulan jurusan yang dia ambil memang perawat. Layaknya orang bekerja di rumah sakit, dia pun mendapat jatah shift yang berbeda-beda setiap harinya. Tak jarang dia harus lembur dengan begadang di rumah sakit semalam suntuk, pulang esok harinya. Mengeluh capek sewaktu-waktu memang sah-sah saja... Karena mengeluh memang suatu hal yang manusiawi banget... namun tidak dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara... Seperti ketika aku kebetulan sedang mencuci baju dibelakang... Tiba-tiba dia datang untuk ikut mencuci baju. Karena ketika itu jemuran sedang penuh, aku menyarankan untuk mencuci keesokan harinya... Dengan ketusnya dia menjawab kalo besok dia sibuk harus berangkat ke rumah sakit lagi... waktu itu aku hanya menanggapinya dengan senyum. Namun senyumanku diartikan lain olehnya... dengan sedikit sewot dia melanjutkan kalo dia bukannya sok sibuk, tapi memang benar-benar sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan praktik kerja. lalu aku lanjutkan pertanyaanku, sudah tahu seperti itu kenapa tidak dicuci dari tadi pagi, sebelum jemuran jadi penuh.. masih dengan nada ketusnya dia bilang kalo dia capek berat.. haduuuhh... kayaknya pertanyaanku salah terus ya... basa-basi sama dia terasa jadi basi beneran.. hehe... Begitupun kejadian pagi ini, ketika aku akan berangkat kerja.. Dengan iseng aku sapa dia sambil menanyakan apakah hari ini dia libur?? dengan entengnya dia jawab kalo hari ini dia bisa libur dia akan bersyukur dan mengadakan selamatan dadakan... dueengg.. aku jadi shock berat (bahasa sby: cegeg) heuheu... dalam hati aku cuman berkata, belum tahu dia kalo Tuhan benar-benar kasih dia libur seumur hidup... heuheu.. baru tahu dia arti kata bersyukur.. hahaha... tapi aku hanya bisa ketawa sambil berujar, ah dasar anak kecil... hehehe...
Aah.. namun itulah dia dengan segala sifatnya.. dengan kemanjaannya, dengan kecentilannya, dengan keluhannya, dengan kemalasannya selalu mewarnai hari-hariku.. Ada dia selalu membuat hariku terasa berbeda setiap harinya.. Dengan kecentilannya dia selalu membuat aku tersenyum.. dengan kemalasannya dan keluhannya selalu membuat aku uring-uringan... Kemanjaannya yang selalu membuat aku gondok berat.. karena aku paling risih kalo dengar suara-suara rengekan manjanya... rasanya pengen tak timpuk meja.. hehehe... Dia, tetanggaku yang menyumbangkan karakternya untuk membentuk karakterku hingga menjadi aku yang seperti hari ini.. Aku yang dapat menulis sekian banyak hanya untuk dia... Dia adalah partikel yang diberikan Tuhan untuk hariku... untuk kupetik sebuah pelajaran darinya.. untuk aku dapat belajar momong dan bersabar... Terima kasih untuk menjadi partikel yang begitu berbeda dalam diriku... Terima kasih.. Terima kasih.. :)
Tetangga yang akan aku ceritakan kali ini usianya beberapa tahun dibawahku... Anggaplah namanya Nanda. Bukan nama sebenarnya sih.. untuk menghormati privasi sang empunya nama. Nanda adalah seorang gadis yang ceria, centil dan ayu... Keceriaannya selalu mewarnai suasana pagi di kost. Sapaan dan tawanya selalu menggema di lorong kost... Kecentilannya selalu dapat memberikan seulas senyum untuk wajah teman-temannya. Kemanjaannya dapat kami maklumi karena usianya yang paling muda diantara kami. Paras ayu nya proporsional dengan kecentilannya. Paras khas wanita-wanita etnik indonesia dengan dagu yang molek. Namun yang akhir-akhir ini membuatku gusar adalah hobi pemalas dan mengeluhnya.
Pernah suatu kali kita lagi ngumpul makan bareng di kamarku. Semua anak bawa makanan dan peralatan makannya sendiri-sendiri. Tidak demikian dengan si nanda. Dia hanya datang membawa makanannya. Bahkan air minum buat dirinya pun dia tidak bawa. Dengan suara manjanya dia minta aku air minum. Aku iyakan saja permintaannya, toh hanya sekedar air minum. Tak lama kemudian dia merengek pengen minum es... Temenku menyarankan untuk minta ke mbak wiek yang kebetulan tadi beli es batu banyak. Dan dengan entengnya dia minta pinjam gelas juga karena gelasnya dia belum dicuci semua. Begitu mendengar rengekannya kali ini, mulutku udah gak tahan untuk kasih komentar... Komentar yang kuberikan memang sedikit pedas. Tapi tidak ada maksud dihatiku untuk marah atau jengkel... Aku hanya ingin dia tahu dan sadar bahwa suatu saat dia musti mandiri. Teman-temannya disini yang sudah seperti kakaknya tidak akan selamanya punya waktu hanya untuk mendengar rengekan manjanya.. Itu berarti tidak pada setiap orang dia bisa bermanja setiap saat.. Harus tahu kondisi dan situasi. Belajar mandiri karena segala sesuatu akan lebih baik bila dapat dikerjakan sendiri tanpa mesti merepotkan orang lain. Memang ada saatnya kita rapuh dan membutuhkan pertolongan orang lain atau sekedar bermanja.. tapi itu tidak setiap saat setiap waktu dapat kita lakukan, apalagi pada setiap orang.. enggak banget... iya gak sih??!
Tentang sifat pengeluhnya ini, aku bilang mendekati akut... kenapa mendekati, karena menurutku sebenarnya masih bisa disembuhkan dengan shock therapy.. hehehe... untuk ukuran anak kuliah, dia memang lumayan sibuk. Karena sedang melakukan kerja praktik di sebuat Rumah Sakit. Kebetulan jurusan yang dia ambil memang perawat. Layaknya orang bekerja di rumah sakit, dia pun mendapat jatah shift yang berbeda-beda setiap harinya. Tak jarang dia harus lembur dengan begadang di rumah sakit semalam suntuk, pulang esok harinya. Mengeluh capek sewaktu-waktu memang sah-sah saja... Karena mengeluh memang suatu hal yang manusiawi banget... namun tidak dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara... Seperti ketika aku kebetulan sedang mencuci baju dibelakang... Tiba-tiba dia datang untuk ikut mencuci baju. Karena ketika itu jemuran sedang penuh, aku menyarankan untuk mencuci keesokan harinya... Dengan ketusnya dia menjawab kalo besok dia sibuk harus berangkat ke rumah sakit lagi... waktu itu aku hanya menanggapinya dengan senyum. Namun senyumanku diartikan lain olehnya... dengan sedikit sewot dia melanjutkan kalo dia bukannya sok sibuk, tapi memang benar-benar sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan praktik kerja. lalu aku lanjutkan pertanyaanku, sudah tahu seperti itu kenapa tidak dicuci dari tadi pagi, sebelum jemuran jadi penuh.. masih dengan nada ketusnya dia bilang kalo dia capek berat.. haduuuhh... kayaknya pertanyaanku salah terus ya... basa-basi sama dia terasa jadi basi beneran.. hehe... Begitupun kejadian pagi ini, ketika aku akan berangkat kerja.. Dengan iseng aku sapa dia sambil menanyakan apakah hari ini dia libur?? dengan entengnya dia jawab kalo hari ini dia bisa libur dia akan bersyukur dan mengadakan selamatan dadakan... dueengg.. aku jadi shock berat (bahasa sby: cegeg) heuheu... dalam hati aku cuman berkata, belum tahu dia kalo Tuhan benar-benar kasih dia libur seumur hidup... heuheu.. baru tahu dia arti kata bersyukur.. hahaha... tapi aku hanya bisa ketawa sambil berujar, ah dasar anak kecil... hehehe...
Aah.. namun itulah dia dengan segala sifatnya.. dengan kemanjaannya, dengan kecentilannya, dengan keluhannya, dengan kemalasannya selalu mewarnai hari-hariku.. Ada dia selalu membuat hariku terasa berbeda setiap harinya.. Dengan kecentilannya dia selalu membuat aku tersenyum.. dengan kemalasannya dan keluhannya selalu membuat aku uring-uringan... Kemanjaannya yang selalu membuat aku gondok berat.. karena aku paling risih kalo dengar suara-suara rengekan manjanya... rasanya pengen tak timpuk meja.. hehehe... Dia, tetanggaku yang menyumbangkan karakternya untuk membentuk karakterku hingga menjadi aku yang seperti hari ini.. Aku yang dapat menulis sekian banyak hanya untuk dia... Dia adalah partikel yang diberikan Tuhan untuk hariku... untuk kupetik sebuah pelajaran darinya.. untuk aku dapat belajar momong dan bersabar... Terima kasih untuk menjadi partikel yang begitu berbeda dalam diriku... Terima kasih.. Terima kasih.. :)
Selasa, 15 Januari 2008
Dibongkar, Situs-Situs Nabi di Makkah, Yang Dibongkar dan Yang Terancam Dirobohkan(1)
Jawa Pos - Selasa, 15 Jan 2008,
Rumah Abu Bakar Jadi Akses Jalan Hotel Hilton
Untuk mengisi waktu yang agak panjang selama berhaji (sekitar 40 hari), kebanyakan jamaah berziarah ke tempat-tempat bersejarah, yang di antaranya terancam dibongkar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Kurniawan Muhammad yang baru saja pulang dari haji.
Pagi itu, jarum jam di Makkah menunjukkan sekitar pukul 09.00 (di Indonesia lebih cepat empat jam). Saya saat itu berada di sebelah timur di halaman luar Masjidilharam. Ketika melintas di bawah tiang lampu (dari beberapa tiang lampu yang ada), terlihat beberapa orang dari Pakistan sedang mengaji Alquran sambil menangis. Mereka bergerombol di bawah salah satu tiang lampu itu.
"Mengapa mereka tidak mengaji di dalam masjid saja? Bukankah pada jam-jam itu, di dalam masjid sedang longgar?" demikian pertanyaan yang mampir di benak saya.
Ternyata bukan hari itu saja saya menemui pemandangan orang bergerombol di bawah tiang lampu tersebut sambil mengaji. Esoknya, beberapa orang melakukan hal yang sama di tempat itu. Kali ini dari Bangladesh.
Mengapa mengaji di bawah lampu itu? Pertanyaan ini baru terjawab ketika KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Nur Haromain, Pandegiling, tempat saya bergabung selama beribadah haji mengajak ke tempat tersebut, beberapa hari kemudian. "Tempat ini dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Siti Khadijah. Di sinilah dulu Nabi dan istrinya mengasuh anak-anaknya, hingga akhirnya Nabi hijrah setelah dikepung orang-orang Quraish," kata Ustad Ghazali Abdi, salah satu pembimbing KBIH Nur Haromain.
Lantas mengapa orang-orang membaca Alquran di tempat itu? "Karena ayat-ayat Alquran banyak diturunkan di sana. Setelah membaca Alquran, biasanya mereka lantas berdoa untuk keluarganya, agar bisa seperti keluarga Nabi," ujarnya.
Saya dan beberapa jamaah lain satu rombongan baru tahu saat itu bahwa lokasi di bawah tiang lampu tersebut dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Khadijah.
Di Arab Saudi, pembongkaran tempat-tempat bersejarah bukanlah hal aneh. Termasuk rumah Nabi Muhammad itu yang saat ini sama sekali tak ada jejaknya.
Menurut sejarah, di lokasi bekas rumah Khadijah itu sempat dibangun masjid oleh Muawiyah. Kemudian pada 1379 H (1959 M), bangunan tersebut diubah menjadi madrasah untuk putri. Enam tahun kemudian dibongkar untuk kepentingan perluasan Masjidilharam. Sekarang, jejak itu sama sekali tak ada.
Tak jauh dari tempat bekas rumah Nabi itu (jaraknya 10 - 15 meter), dibangun toilet untuk pria. Karena itu, kadang, ketika berada di tempat tersebut, aroma toilet terasa. "Tempat untuk toilet itu dulu rumah Abu Lahab (paman Nabi yang jahat)," cerita Ghazali yang sudah lebih dari lima kali mengantar jamaah haji ini. Di dekat rumah Nabi dibangun toilet? Itulah yang terjadi.
Pada 1998, pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga membongkar makam Siti Aminah, ibunda Nabi Muhammad SAW. Sehingga, para jamaah haji yang berangkat setelah itu mungkin akan kesulitan jika ingin menapak tilas makam tersebut.
Begitu juga rumah Abu Bakar (sahabat Nabi Muhammad) yang ada di Makkah, dibongkar untuk keperluan pembuatan jalan menuju ke Hotel Hilton.
Pikiran saya lantas terbang ke tanah air. Kalau saja bekas rumah Nabi atau makam ibunda Nabi berada di Indonesia, mungkin keberadaannya akan awet sampai sekarang. Bahkan, mungkin akan dibangun dengan semegah-megahnya. Bukankah makam para wali songo (penyebar Islam di Pulau Jawa), sampai sekarang tetap terjaga?
Pikiran juga terbang ke Surabaya. Saya teringat dengan cerita masjid yang bertahun-tahun berdiri di tengah jalan, kemudian dipersoalkan, karena dalam perkembangannya keberadaan masjid tersebut membuat arus lalu lintas menjadi tidak lancar.
Satu-satunya cara agar lalu lintas di sana lancar adalah membongkar masjid tersebut. Rencana ini pula yang dilakukan Pemkot Surabaya. Pemkot Surabaya bahkan sudah menjamin membangunkan masjid di tempat lain sebagai pengganti. Tapi, rencana tersebut ternyata tidak mudah. Butuh waktu beberapa tahun, karena ada kelompok masyarakat yang sempat menentang keras. Tapi, akhirnya masjid itu berhasil dibongkar akhir Desember 2007.
Di Surabaya, membongkar masjid yang jelas-jelas untuk kepentingan umum dan jelas-jelas akan dibangunkan di tempat lain, sulitnya minta ampun. Sedangkan di Arab Saudi, membongkar tempat bersejarah, meski belum tentu peruntukannya untuk kepentingan umum, gampangnya bukan main. (bersambung)
Rumah Abu Bakar Jadi Akses Jalan Hotel Hilton
Untuk mengisi waktu yang agak panjang selama berhaji (sekitar 40 hari), kebanyakan jamaah berziarah ke tempat-tempat bersejarah, yang di antaranya terancam dibongkar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Kurniawan Muhammad yang baru saja pulang dari haji.
Pagi itu, jarum jam di Makkah menunjukkan sekitar pukul 09.00 (di Indonesia lebih cepat empat jam). Saya saat itu berada di sebelah timur di halaman luar Masjidilharam. Ketika melintas di bawah tiang lampu (dari beberapa tiang lampu yang ada), terlihat beberapa orang dari Pakistan sedang mengaji Alquran sambil menangis. Mereka bergerombol di bawah salah satu tiang lampu itu.
"Mengapa mereka tidak mengaji di dalam masjid saja? Bukankah pada jam-jam itu, di dalam masjid sedang longgar?" demikian pertanyaan yang mampir di benak saya.
Ternyata bukan hari itu saja saya menemui pemandangan orang bergerombol di bawah tiang lampu tersebut sambil mengaji. Esoknya, beberapa orang melakukan hal yang sama di tempat itu. Kali ini dari Bangladesh.
Mengapa mengaji di bawah lampu itu? Pertanyaan ini baru terjawab ketika KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Nur Haromain, Pandegiling, tempat saya bergabung selama beribadah haji mengajak ke tempat tersebut, beberapa hari kemudian. "Tempat ini dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Siti Khadijah. Di sinilah dulu Nabi dan istrinya mengasuh anak-anaknya, hingga akhirnya Nabi hijrah setelah dikepung orang-orang Quraish," kata Ustad Ghazali Abdi, salah satu pembimbing KBIH Nur Haromain.
Lantas mengapa orang-orang membaca Alquran di tempat itu? "Karena ayat-ayat Alquran banyak diturunkan di sana. Setelah membaca Alquran, biasanya mereka lantas berdoa untuk keluarganya, agar bisa seperti keluarga Nabi," ujarnya.
Saya dan beberapa jamaah lain satu rombongan baru tahu saat itu bahwa lokasi di bawah tiang lampu tersebut dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Khadijah.
Di Arab Saudi, pembongkaran tempat-tempat bersejarah bukanlah hal aneh. Termasuk rumah Nabi Muhammad itu yang saat ini sama sekali tak ada jejaknya.
Menurut sejarah, di lokasi bekas rumah Khadijah itu sempat dibangun masjid oleh Muawiyah. Kemudian pada 1379 H (1959 M), bangunan tersebut diubah menjadi madrasah untuk putri. Enam tahun kemudian dibongkar untuk kepentingan perluasan Masjidilharam. Sekarang, jejak itu sama sekali tak ada.
Tak jauh dari tempat bekas rumah Nabi itu (jaraknya 10 - 15 meter), dibangun toilet untuk pria. Karena itu, kadang, ketika berada di tempat tersebut, aroma toilet terasa. "Tempat untuk toilet itu dulu rumah Abu Lahab (paman Nabi yang jahat)," cerita Ghazali yang sudah lebih dari lima kali mengantar jamaah haji ini. Di dekat rumah Nabi dibangun toilet? Itulah yang terjadi.
Pada 1998, pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga membongkar makam Siti Aminah, ibunda Nabi Muhammad SAW. Sehingga, para jamaah haji yang berangkat setelah itu mungkin akan kesulitan jika ingin menapak tilas makam tersebut.
Begitu juga rumah Abu Bakar (sahabat Nabi Muhammad) yang ada di Makkah, dibongkar untuk keperluan pembuatan jalan menuju ke Hotel Hilton.
Pikiran saya lantas terbang ke tanah air. Kalau saja bekas rumah Nabi atau makam ibunda Nabi berada di Indonesia, mungkin keberadaannya akan awet sampai sekarang. Bahkan, mungkin akan dibangun dengan semegah-megahnya. Bukankah makam para wali songo (penyebar Islam di Pulau Jawa), sampai sekarang tetap terjaga?
Pikiran juga terbang ke Surabaya. Saya teringat dengan cerita masjid yang bertahun-tahun berdiri di tengah jalan, kemudian dipersoalkan, karena dalam perkembangannya keberadaan masjid tersebut membuat arus lalu lintas menjadi tidak lancar.
Satu-satunya cara agar lalu lintas di sana lancar adalah membongkar masjid tersebut. Rencana ini pula yang dilakukan Pemkot Surabaya. Pemkot Surabaya bahkan sudah menjamin membangunkan masjid di tempat lain sebagai pengganti. Tapi, rencana tersebut ternyata tidak mudah. Butuh waktu beberapa tahun, karena ada kelompok masyarakat yang sempat menentang keras. Tapi, akhirnya masjid itu berhasil dibongkar akhir Desember 2007.
Di Surabaya, membongkar masjid yang jelas-jelas untuk kepentingan umum dan jelas-jelas akan dibangunkan di tempat lain, sulitnya minta ampun. Sedangkan di Arab Saudi, membongkar tempat bersejarah, meski belum tentu peruntukannya untuk kepentingan umum, gampangnya bukan main. (bersambung)
Jumat, 11 Januari 2008
Gadis Itu...
Cerita ini berawal ketika aku naik bemo sepulang dari Rungkut. Bemo yang kutumpangi tidak terlalu penuh, hanya ada 5 orang termasuk aku. Tak berapa lama, 3 orang penumpang, 2 wanita dan 1 pria turun di pertigaan rungkut industri. Tinggalah aku dan 1 orang penumpang lagi. Penumpang inilah yang akhirnya menggerakkan jari-jariku untuk menulis. Penumpang itu seorang gadis yang mungkin umurnya sebaya denganku. Dia mengenakan jilbab putih dan pakaian yang tampak sedikit lusuh. Bukan pakaian yang usang sebenarnya, hanya mungkin bekas-bekas setrika sudah hilang dimakan kepadatan jalan. Ketika tinggal kami berdua di bemo itu, dia mulai tersenyum padaku. Sambil bergumam yang kurang jelas dia menanyakan sesuatu padaku. Yang kutangkap dari gumamannya hanya kata "turun" dan "mana". Mungkin maksudnya mau menanyakan tujuanku. Dengan sedikit enggan aku menjawab tujuanku. Aku memang paling malas bercakap-cakap dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali. Bahkan mungkin dari nada bicaraku akan terlihat sedikit ketus. Selain aku takut sama orang yang tidak kukenal, sikap terlalu waspada membuat aku selalu membentengi diri dari siapa saja yang terasa asing buatku. Mungkin setelah mendengar jawabanku yang sedikit ketus, akhirnya gadis itu menghentikan senyum dan gumamannya. Tak berapa lama si gadis itu turun dari bemo. Yang membuatku shock dan sedikit terpukul, setelah si gadis turun dari bemo baru aku tahu kalau gadis tersebut cacat. Kaki dan tangan kirinya yang tidak sempurna, membuat jalannya terseok-seok sehingga (maaf) lebih terkesan semper... Ketika dia membayar ongkos bemo pada sopir, aku juga baru tahu ternyata dia memiliki kekurangan pada bicaranya. Barulah terjawab keherananku kenapa ketika berbicara denganku yang terdengar hanya gumaman-gumaman yang tidak jelas. Setelah itu aku tersadar bahwa sikapku yang terlalu takut dan waspada hanya menghasilkan kesan sombong dan arogan untuk gadis itu.. Sikap yang tidak seharusnya aku berikan pada setiap orang yang aku temui. Seandainya waktu dapat membukakan mataku lebih awal, mungkin aku akan dapat sedikit membantunya meski hanya dengan menemaninya ngobrol. Tapi yang aku rasakan saat itu, hatiku ingin sekali menangis dan berteriak, maaf... Penyesalan adalah sebuah pelajaran yang tiada terkira harganya... Pelajaran yang tidak akan diberikan di sekolah manapun juga selain sekolah kehidupan... Pelajaran untuk membuka mata lebih lebar lagi...
Langganan:
Postingan (Atom)