Jumat, 29 Januari 2010

Kakak (1)

Kakak... Hari ini bunda pengen banget maem yang asem-asem. Mangga muda, rujak gobet. Orang bilang ngidam kayaknya... Tapi buat bunda cuma biar gak mual aja... Kasihan kakak, kalo bunda muntah-muntah terus. Nanti asupan gizi buat kakak jadi berkurang banyak. Harusnya kemarin bunda udah check up lagi ke bidan. Tapi karena Papa pulangnya malam, belum jadi deh ke bidannya. Jadi kakak belum dapat vitamin lagi. Tapi bunda sekarang rutin kok minum susu nya. Do'ain rejeki bunda sama papa lancar ya sayang... Biar bunda gak telat beli vitamin sama susu nya buat kakak. Biar bunda bisa maem terus, buat kakak... Biar bunda bisa bantu eyang beli belanjaan. Kasihan eyang sayang, sekarang pengeluarannya jadi banyak karena harus masak terus tiap hari buat bunda sama kakak. Suatu hari nanti, kakak bantu eyang di Surabaya sama eyang di Ngawi yaaa... Kakak jadi anak yang berbakti... ^_^ Kita berdo'a bareng ya sayang....

Jumat, 22 Januari 2010

A Friend in Need is A Friend Indeed

"Sahabat". Kata-kata itu berputar di otakku beberapa hari ini. Seperti migrain yang membandel. Beberapa kejadian bersama sahabat satu persatu membayang di ingatan. Mulai dari hal yang paling membahagiakan hingga hal yang paling menyakitkan. Some people says "a friend in need is a friend indeed". Kata-kata itu seperti menohok ulu hatiku. Tak dapat dipungkiri, perjalananku hingga sampai disini tak akan pernah bisa tanpa campur tangan aneka warna dari sahabat-sahabatku. Mereka menggoreskan tintanya masing-masing, warnanya sendiri-sendiri dalam sebuah album perjalanan hidupku. Namun belakangan, aku menemui hal-hal yang masih sangat sulit untuk kuterima tentang sahabat. Yaaach... meskipun ada yang bilang, menerima kehadiran seorang sahabat jangan hanya disaat suka, namun harus bisa menerimanya di saat sakit. Well, okay, that's the point I could understand. Ketika mereka terjatuh, terluka, menangis, mungkin dengan tangan terbuka aku siap menerima mereka, menjadi sahabat tempat mereka mencurahkan keluh-kesah. Tapi bagaimana bila berada dalam posisi seorang sahabat yang menusuk sahabatnya, seorang teman yang melukai hati temannya, seorang teman yang membohongi temannya yang lain hanya demi masalah sepele. That's the point I still try to understand. Rasa marah, benci, kecewa berbaur dalam rasa penyesalan dan ketiada berdayaanku. Di satu sisi aku berusaha memahami mereka melakukan itu dengan alasan, yang mungkin tidak perlu aku mengerti atau aku pahami. Tapi disisi lain hatiku berontak, how could you???!! Ini terjadi tidak hanya sekali atau dua kali. Beberapa kali melintas dalam goresan hidupku. Meskipun aku berusaha memahami keadaan mereka, tapi dalam hatiku masih belum dapat menerima alasan-alasan itu. Mungkin memang tidak perlu dipertanyakan mengapa dan bagaimana. Tapi cukup take it or leave it. Than which one I should choose?? Just take it??? Menerima begitu saja rasa sakit yang tidak bisa dipungkiri masih bercokol dalam di hati...??? or Leave it??? heeeyyy.... we've been together for such a long time, that I can't erase them as easy as I walk away and wave my hand. Mungkin memang dibutuhkan waktu yang entah sampai kapan aku dapat hanya menerima tanpa harus bertanya mengapa dan bagaimana. All I can do is try the best I can do... fiiuuuhh... So, anyone can help me??