Duluuuu sekali aku pernah bikin blog dengan judul yang sama.. Tapi untuk yang satu ini lain cerita. Karena sudah dari 6 bulan yang lalu aku pindah kost, jadi aku punya tetangga yang baru lagi. Setiap kost akan memiliki kesan yang berbeda-beda dengan segala keadaan, masalah dan tetangga-tetangganya... Kali ini aku pindah kost di tempat yang lebih dekat dengan kantor. Selain untuk menghemat anggaran juga karena kuliah sudah kelar. Aku menempati kamar nomor 28. My lucky number... :)
Tetangga yang akan aku ceritakan kali ini usianya beberapa tahun dibawahku... Anggaplah namanya Nanda. Bukan nama sebenarnya sih.. untuk menghormati privasi sang empunya nama. Nanda adalah seorang gadis yang ceria, centil dan ayu... Keceriaannya selalu mewarnai suasana pagi di kost. Sapaan dan tawanya selalu menggema di lorong kost... Kecentilannya selalu dapat memberikan seulas senyum untuk wajah teman-temannya. Kemanjaannya dapat kami maklumi karena usianya yang paling muda diantara kami. Paras ayu nya proporsional dengan kecentilannya. Paras khas wanita-wanita etnik indonesia dengan dagu yang molek. Namun yang akhir-akhir ini membuatku gusar adalah hobi pemalas dan mengeluhnya.
Pernah suatu kali kita lagi ngumpul makan bareng di kamarku. Semua anak bawa makanan dan peralatan makannya sendiri-sendiri. Tidak demikian dengan si nanda. Dia hanya datang membawa makanannya. Bahkan air minum buat dirinya pun dia tidak bawa. Dengan suara manjanya dia minta aku air minum. Aku iyakan saja permintaannya, toh hanya sekedar air minum. Tak lama kemudian dia merengek pengen minum es... Temenku menyarankan untuk minta ke mbak wiek yang kebetulan tadi beli es batu banyak. Dan dengan entengnya dia minta pinjam gelas juga karena gelasnya dia belum dicuci semua. Begitu mendengar rengekannya kali ini, mulutku udah gak tahan untuk kasih komentar... Komentar yang kuberikan memang sedikit pedas. Tapi tidak ada maksud dihatiku untuk marah atau jengkel... Aku hanya ingin dia tahu dan sadar bahwa suatu saat dia musti mandiri. Teman-temannya disini yang sudah seperti kakaknya tidak akan selamanya punya waktu hanya untuk mendengar rengekan manjanya.. Itu berarti tidak pada setiap orang dia bisa bermanja setiap saat.. Harus tahu kondisi dan situasi. Belajar mandiri karena segala sesuatu akan lebih baik bila dapat dikerjakan sendiri tanpa mesti merepotkan orang lain. Memang ada saatnya kita rapuh dan membutuhkan pertolongan orang lain atau sekedar bermanja.. tapi itu tidak setiap saat setiap waktu dapat kita lakukan, apalagi pada setiap orang.. enggak banget... iya gak sih??!
Tentang sifat pengeluhnya ini, aku bilang mendekati akut... kenapa mendekati, karena menurutku sebenarnya masih bisa disembuhkan dengan shock therapy.. hehehe... untuk ukuran anak kuliah, dia memang lumayan sibuk. Karena sedang melakukan kerja praktik di sebuat Rumah Sakit. Kebetulan jurusan yang dia ambil memang perawat. Layaknya orang bekerja di rumah sakit, dia pun mendapat jatah shift yang berbeda-beda setiap harinya. Tak jarang dia harus lembur dengan begadang di rumah sakit semalam suntuk, pulang esok harinya. Mengeluh capek sewaktu-waktu memang sah-sah saja... Karena mengeluh memang suatu hal yang manusiawi banget... namun tidak dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara... Seperti ketika aku kebetulan sedang mencuci baju dibelakang... Tiba-tiba dia datang untuk ikut mencuci baju. Karena ketika itu jemuran sedang penuh, aku menyarankan untuk mencuci keesokan harinya... Dengan ketusnya dia menjawab kalo besok dia sibuk harus berangkat ke rumah sakit lagi... waktu itu aku hanya menanggapinya dengan senyum. Namun senyumanku diartikan lain olehnya... dengan sedikit sewot dia melanjutkan kalo dia bukannya sok sibuk, tapi memang benar-benar sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan praktik kerja. lalu aku lanjutkan pertanyaanku, sudah tahu seperti itu kenapa tidak dicuci dari tadi pagi, sebelum jemuran jadi penuh.. masih dengan nada ketusnya dia bilang kalo dia capek berat.. haduuuhh... kayaknya pertanyaanku salah terus ya... basa-basi sama dia terasa jadi basi beneran.. hehe... Begitupun kejadian pagi ini, ketika aku akan berangkat kerja.. Dengan iseng aku sapa dia sambil menanyakan apakah hari ini dia libur?? dengan entengnya dia jawab kalo hari ini dia bisa libur dia akan bersyukur dan mengadakan selamatan dadakan... dueengg.. aku jadi shock berat (bahasa sby: cegeg) heuheu... dalam hati aku cuman berkata, belum tahu dia kalo Tuhan benar-benar kasih dia libur seumur hidup... heuheu.. baru tahu dia arti kata bersyukur.. hahaha... tapi aku hanya bisa ketawa sambil berujar, ah dasar anak kecil... hehehe...
Aah.. namun itulah dia dengan segala sifatnya.. dengan kemanjaannya, dengan kecentilannya, dengan keluhannya, dengan kemalasannya selalu mewarnai hari-hariku.. Ada dia selalu membuat hariku terasa berbeda setiap harinya.. Dengan kecentilannya dia selalu membuat aku tersenyum.. dengan kemalasannya dan keluhannya selalu membuat aku uring-uringan... Kemanjaannya yang selalu membuat aku gondok berat.. karena aku paling risih kalo dengar suara-suara rengekan manjanya... rasanya pengen tak timpuk meja.. hehehe... Dia, tetanggaku yang menyumbangkan karakternya untuk membentuk karakterku hingga menjadi aku yang seperti hari ini.. Aku yang dapat menulis sekian banyak hanya untuk dia... Dia adalah partikel yang diberikan Tuhan untuk hariku... untuk kupetik sebuah pelajaran darinya.. untuk aku dapat belajar momong dan bersabar... Terima kasih untuk menjadi partikel yang begitu berbeda dalam diriku... Terima kasih.. Terima kasih.. :)
2 komentar:
Sabar aja cc.Hehehehe btw kenalin donk... :)
iya kk... maen aja ke kost. Tapi udah punya airen tuh anaknya.. :p
Posting Komentar