Jawa Pos - Selasa, 15 Jan 2008,
Rumah Abu Bakar Jadi Akses Jalan Hotel Hilton
Untuk mengisi waktu yang agak panjang selama berhaji (sekitar 40 hari), kebanyakan jamaah berziarah ke tempat-tempat bersejarah, yang di antaranya terancam dibongkar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Kurniawan Muhammad yang baru saja pulang dari haji.
Pagi itu, jarum jam di Makkah menunjukkan sekitar pukul 09.00 (di Indonesia lebih cepat empat jam). Saya saat itu berada di sebelah timur di halaman luar Masjidilharam. Ketika melintas di bawah tiang lampu (dari beberapa tiang lampu yang ada), terlihat beberapa orang dari Pakistan sedang mengaji Alquran sambil menangis. Mereka bergerombol di bawah salah satu tiang lampu itu.
"Mengapa mereka tidak mengaji di dalam masjid saja? Bukankah pada jam-jam itu, di dalam masjid sedang longgar?" demikian pertanyaan yang mampir di benak saya.
Ternyata bukan hari itu saja saya menemui pemandangan orang bergerombol di bawah tiang lampu tersebut sambil mengaji. Esoknya, beberapa orang melakukan hal yang sama di tempat itu. Kali ini dari Bangladesh.
Mengapa mengaji di bawah lampu itu? Pertanyaan ini baru terjawab ketika KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Nur Haromain, Pandegiling, tempat saya bergabung selama beribadah haji mengajak ke tempat tersebut, beberapa hari kemudian. "Tempat ini dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Siti Khadijah. Di sinilah dulu Nabi dan istrinya mengasuh anak-anaknya, hingga akhirnya Nabi hijrah setelah dikepung orang-orang Quraish," kata Ustad Ghazali Abdi, salah satu pembimbing KBIH Nur Haromain.
Lantas mengapa orang-orang membaca Alquran di tempat itu? "Karena ayat-ayat Alquran banyak diturunkan di sana. Setelah membaca Alquran, biasanya mereka lantas berdoa untuk keluarganya, agar bisa seperti keluarga Nabi," ujarnya.
Saya dan beberapa jamaah lain satu rombongan baru tahu saat itu bahwa lokasi di bawah tiang lampu tersebut dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW ketika membina rumah tangga bersama Khadijah.
Di Arab Saudi, pembongkaran tempat-tempat bersejarah bukanlah hal aneh. Termasuk rumah Nabi Muhammad itu yang saat ini sama sekali tak ada jejaknya.
Menurut sejarah, di lokasi bekas rumah Khadijah itu sempat dibangun masjid oleh Muawiyah. Kemudian pada 1379 H (1959 M), bangunan tersebut diubah menjadi madrasah untuk putri. Enam tahun kemudian dibongkar untuk kepentingan perluasan Masjidilharam. Sekarang, jejak itu sama sekali tak ada.
Tak jauh dari tempat bekas rumah Nabi itu (jaraknya 10 - 15 meter), dibangun toilet untuk pria. Karena itu, kadang, ketika berada di tempat tersebut, aroma toilet terasa. "Tempat untuk toilet itu dulu rumah Abu Lahab (paman Nabi yang jahat)," cerita Ghazali yang sudah lebih dari lima kali mengantar jamaah haji ini. Di dekat rumah Nabi dibangun toilet? Itulah yang terjadi.
Pada 1998, pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga membongkar makam Siti Aminah, ibunda Nabi Muhammad SAW. Sehingga, para jamaah haji yang berangkat setelah itu mungkin akan kesulitan jika ingin menapak tilas makam tersebut.
Begitu juga rumah Abu Bakar (sahabat Nabi Muhammad) yang ada di Makkah, dibongkar untuk keperluan pembuatan jalan menuju ke Hotel Hilton.
Pikiran saya lantas terbang ke tanah air. Kalau saja bekas rumah Nabi atau makam ibunda Nabi berada di Indonesia, mungkin keberadaannya akan awet sampai sekarang. Bahkan, mungkin akan dibangun dengan semegah-megahnya. Bukankah makam para wali songo (penyebar Islam di Pulau Jawa), sampai sekarang tetap terjaga?
Pikiran juga terbang ke Surabaya. Saya teringat dengan cerita masjid yang bertahun-tahun berdiri di tengah jalan, kemudian dipersoalkan, karena dalam perkembangannya keberadaan masjid tersebut membuat arus lalu lintas menjadi tidak lancar.
Satu-satunya cara agar lalu lintas di sana lancar adalah membongkar masjid tersebut. Rencana ini pula yang dilakukan Pemkot Surabaya. Pemkot Surabaya bahkan sudah menjamin membangunkan masjid di tempat lain sebagai pengganti. Tapi, rencana tersebut ternyata tidak mudah. Butuh waktu beberapa tahun, karena ada kelompok masyarakat yang sempat menentang keras. Tapi, akhirnya masjid itu berhasil dibongkar akhir Desember 2007.
Di Surabaya, membongkar masjid yang jelas-jelas untuk kepentingan umum dan jelas-jelas akan dibangunkan di tempat lain, sulitnya minta ampun. Sedangkan di Arab Saudi, membongkar tempat bersejarah, meski belum tentu peruntukannya untuk kepentingan umum, gampangnya bukan main. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar