Cerita ini berawal ketika aku naik bemo sepulang dari Rungkut. Bemo yang kutumpangi tidak terlalu penuh, hanya ada 5 orang termasuk aku. Tak berapa lama, 3 orang penumpang, 2 wanita dan 1 pria turun di pertigaan rungkut industri. Tinggalah aku dan 1 orang penumpang lagi. Penumpang inilah yang akhirnya menggerakkan jari-jariku untuk menulis. Penumpang itu seorang gadis yang mungkin umurnya sebaya denganku. Dia mengenakan jilbab putih dan pakaian yang tampak sedikit lusuh. Bukan pakaian yang usang sebenarnya, hanya mungkin bekas-bekas setrika sudah hilang dimakan kepadatan jalan. Ketika tinggal kami berdua di bemo itu, dia mulai tersenyum padaku. Sambil bergumam yang kurang jelas dia menanyakan sesuatu padaku. Yang kutangkap dari gumamannya hanya kata "turun" dan "mana". Mungkin maksudnya mau menanyakan tujuanku. Dengan sedikit enggan aku menjawab tujuanku. Aku memang paling malas bercakap-cakap dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali. Bahkan mungkin dari nada bicaraku akan terlihat sedikit ketus. Selain aku takut sama orang yang tidak kukenal, sikap terlalu waspada membuat aku selalu membentengi diri dari siapa saja yang terasa asing buatku. Mungkin setelah mendengar jawabanku yang sedikit ketus, akhirnya gadis itu menghentikan senyum dan gumamannya. Tak berapa lama si gadis itu turun dari bemo. Yang membuatku shock dan sedikit terpukul, setelah si gadis turun dari bemo baru aku tahu kalau gadis tersebut cacat. Kaki dan tangan kirinya yang tidak sempurna, membuat jalannya terseok-seok sehingga (maaf) lebih terkesan semper... Ketika dia membayar ongkos bemo pada sopir, aku juga baru tahu ternyata dia memiliki kekurangan pada bicaranya. Barulah terjawab keherananku kenapa ketika berbicara denganku yang terdengar hanya gumaman-gumaman yang tidak jelas. Setelah itu aku tersadar bahwa sikapku yang terlalu takut dan waspada hanya menghasilkan kesan sombong dan arogan untuk gadis itu.. Sikap yang tidak seharusnya aku berikan pada setiap orang yang aku temui. Seandainya waktu dapat membukakan mataku lebih awal, mungkin aku akan dapat sedikit membantunya meski hanya dengan menemaninya ngobrol. Tapi yang aku rasakan saat itu, hatiku ingin sekali menangis dan berteriak, maaf... Penyesalan adalah sebuah pelajaran yang tiada terkira harganya... Pelajaran yang tidak akan diberikan di sekolah manapun juga selain sekolah kehidupan... Pelajaran untuk membuka mata lebih lebar lagi...
1 komentar:
Smile for everyone but give your heart just for one...:)
Posting Komentar